Tidak semua orang dapat merasakan sensasi audiovisual
yang ditampilkan dalam sebuah film. Seperti yang dialami oleh masyarakat
tunanetra yang tidak dapat menikmati efek visual dari menonton film. Melalui
bioskop bisik, Think.web dan Fency, masyarakat tunanetra dapat menikmati film
dan membayangkan visual yang ditampilkan oleh film tersebut. Acara ini menawarkan
sebuah solusi bagi masyarakat tunanetra agar mendapatkan pengalaman menonton
film secara utuh. Konsep bioskop bisik yaitu tiap penonton tunanetra didampingi oleh
volunteer saat menonton, kemudian volunteer membisikkan deskripsi adegan dan
alur cerita kepada penonton tunantera, sehingga mereka memahami dan dapat
merasakan emosi yang di dalam film tersebut.
Acara ini berlangsung pada tanggal 17 Januari 2015 di
Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia Jakarta. Ini merupakan
pagelaran bioskop bisik perdana yang menurut salah satu panitianya berawal hanya iseng
semata. Bioskop bisik perdana ini, menayangkan film Janji Joni. Rencananya,
bioskop bisik ini akan digelar setiap bulan dengan film yang selalu berbeda.
Tujuan diselenggara acara bioskop bisik ini agar
teman-teman tunanetra dapat merasakan dan menikmati film di bioskop seperti
kebanyakan orang. Penonton yang hadir di bioskop bisik ini terdiri dari
anak-anak, ibu rumah tangga, mahasiswa dan dari berbagai kalangan lainnya.
Tidak ada segmentasi usia untuk dapat ikut menonton di bioskop bisik ini.
Pagelaran bioskop bisik perdana ini, dihadiri oleh 15
Sutradara, 10 Produser, 50 tunanetra dan 35 relawan dari Fency. Salah satu
sutradara yang hadir yaitu Joko Anwar, penggarap film yang ditayangkan dalam
bioskop bisik perdana ini. “sudah seharusnya teman-teman tunanetra mendapatkan perhatian
yang lebih, karena di berbagai
Negara mereka sudah mendapat fasilitas kemudahan untuk mereka mendapatkan
sendi-sendi kehidupan termasuk hiburan. Misalnya, akan diadakan
nonton film, menggunakan headset yang dapat menarasikan adegan-adegan film.
Sehingga mereka dapat menonton film secara mandiri.” Ujar Joko Anwar saat kami
wawancarai seusai menyaksikan film di bioskop bisik.
Antusias teman-teman tunanetra dan volunteer sangat
terlihat dalam acara ini, mereka mengikuti film dengan seksama dan tidak jarang
mereka tertawa karena membayangkan adegan pada film yang dibisikan oleh
volunteer pendamping mereka. Antusias tersebut diungkapkan oleh Irma, salah
seorang penonton bioskop bisik, Irma mengatakan Acara nonton bareng seperti ini
merupakan pengalaman pertamanya. Sebelum menjadi tunanetra, ia gemar sekali
nonton tv ataupun bioskop. Setelah menjadi tunanetra, ia mendapat kendala untuk
mengikuti hobinya ini . Dengan acara ini, mudah-mudahan dapat menjadi inspirasi
bagi para pendukung film, penulis skenario, sutradara untuk bisa mengakomodir
apa yang menjadi kebutuhan difabilitas khususnya tunanetra.
Selain dari teman-teman tunanetra, antusias dirasakan
oleh para volunteer yang berpartisipasi dalam acara ini, tak sedikit juga yang
memberikan tanggapan serta masukan untuk acara ini. Menurut Anne Nuraini
sebagai volunteer berpendapat, Sebaikanya para volunteer dan penyelenggara
dapat mengarahkan apa yang mereka lihat dan membagikan kepada teman-teman
tunanetra. Karena tunanetra menggunakan indra perasa dimana mereka bisa
mendengar dan merasakan sehingga kita harus bisa menjelaskan apa yang kita
lihat melalui visual, sehingga mereka dapat merasakan film seperti apa, minimal
mereka tahu alat-alat yang digunakan dalam pembuatan film.
Itu dia review dari acara bioskop bisik yang
diadakan oleh Fency dan Think.web. sebuah acara yang bertujuan untuk membantu
teman-teman difabel tunanetra agar bisa merasakan dan menikmati film selayaknya
orang-orang biasa. Kita masih menunggu pangelaran selanjutnya dari bioskop
bisik. (Hana/Badruz)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar