Daftar Blog Saya

Rabu, 25 November 2015

PROSES PENIRUAN DARI REALITAS SOSIAL STUDI TALKSHOW SARAH SECHAN

PROSES PENIRUAN DARI REALITAS SOSIAL
STUDI TALKSHOW SARAH SECHAN
Ditujukan untuk Memenuhi Nilai Ujian Akhir Smester
Mata Kuliah Sosiologi Komunikasi Massa
Description: C:\Users\USER\Documents\kuliah\Logo_UIN_Syarif_Hidayatullah_Jakarta.jpg
Hana Futari
Jurnalistik 5A
(1112051100024)
Dosen :
Deden Mauli Darajat ., M.SC


KONSENTRASI JURNALISTIK
FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2014
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang berfungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak beserta suara. Penemuan televise disejajarkan dengan penemuan roda, karena penemuan ini mampu mengubah peradaban dunia. Bahkan Catherine Cookson dan Charles Dickens menguraikan betapa mengesankannya medium yang dinamakan televisi sehingga televisi dianggap sebagai sebuah fenomena kultural, sekaligus medium dimana sepenggal aktivitas budaya hadir  di dalam rumah.
 Di Indonesia, sejarah sistem penyiaran televisi dimulai pada 17 Agustus 1962. Hari itu, Televisi Republik Indonesia (TVRI) lahir dan untuk pertama kalinya beroprasi. Pada awalnya, TVRI menyukseskan penyelenggaraan Asian Games ke-4 di Jakarta. Siaran TVRI sehubungan dengan Organizing Comitte Asian Games IV yang dibentuk khusus untuk event olahraga itu. Dibawah naungan Biro Radio dan Televisi Dapertemen Penerangan. Mulai 12 November 1962 TVRI mengudara secara regular setiap hari. Pada tahun 1988 mulai bermunculan stasiun-stasiun televisi swasta di Indonesia seperti RCTI (1988), SCTV (1989), TPI (1990), ANTV(1993), INDOSIAR (1995). Sampai sekarang banyak bermunculan televisi swasta seperti TRANS TV, Global TV, NET TV, METRO TV dan bentuk media lainnya yang semakin bebas memberikan tayangan yang disukai oleh khalayak.
Program-program yang ditayangkan televisi juga semakin beraneka ragam seperti berita, sinetron, film, kuis dan juga talkshow. Semua program-program tersebut tersebar hampir diseluruh stasiun televise di Indonesia. Program Talkshow adalah sebuah program televise atau radio dimana seseorang ataupun kelompok berkumpul bersama untuk membahas dan mendiskusikan berbagai hal topic dengan suasana santai namun serius, yang dipandu oleh seorang moderator. Kadangkala, talkshow menghadirkan tamu berkelompok yang ingin mempelajari berbahai pengalaman hebat. Di lain hal juga, sorang tamu dihadirkan oleh moderator untuk betbagi pengalaman.
Seiring berjalannya waktu, telvleisi semakin menjadi benda yang wajib dimiliki oleh setiap keluarga. Bahkan, televisi dapat diibaratkan menjadi salah satu anggota keluarga yang paling sering bercerita. Tidak hanya orang dewasa yang menikmati siaran-siaran televisi, anak-anak merupakan audiens yang paling sering menikmati siaran televisi. Bahkan, tidak sedikit pula anak-anak yang meniru adegan atau perilaku tokoh di tayangan televisi yang Ia lihat di televisi.
Dalam pembelajaran sosial melalui media, terdapat beberapa kategori yang menggambarkan seberapa jauh perilaku yang dipelajari orang melalui media. Imitasi, imitasi adalah duplikasi secara langsung. Kemudian Identifikasi, identifikasi adalah bentuk khusus imitasi yang meniru model yang tergeneralisasi melampaui tindakan tertentu. Berusaha untuk menjadi seperti model dengan kualitas yang lebih luas.[1]

B.     Rumusan Masalah
1.                  Apa penngertian Teori Social Learning atau Pembelajaran Sosial?
2.                  Perkembangan Teori Social Learning Terhadap Media Massa?
3.                  Dampak Teori Social Learning dalam Realitas Sosial Talkshow?
4.                  Apa kasus yangberhubungan dengan teori social learning yang  terdapat pada talkshow Sarah Sechan ?


C.     Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk memenuhi Tugas Ujian Akhir Semester mata kuliah Sosiologi Komunikasi Massa. Selain itu untuk mengetahui pengertian, perkembangan dan dampak dari Teori Social Learning, Teori Model Sosial dan Kultivasi serta mengetahui dampak dari talkshow  Sarah Sechan.























BAB II
PEMBAHASAN
A.    Landasan Teori
1.      Teori Social Learning
Model efek media yang secara luas dijadikan rujukan, adalah teori pembelajaran social dari Bandura (1986). Ide dasarnya adalah kita tidak dapat belajar semua atau bahkan sebagian besar dari apa yang kita perlukan untuk memandu perkembangan dan perilaku kita sendiri dari pengamatan dan pengalaman personal langsung saja. Kita harus banyak belajar dari sumber tidak langsung, termasuk media massa. Model Bandura menyatakan empat proses dasar dari pembelajaran social yang terjadi secara berurutan: perhatian, penahanan (ingatan),produksi, dan motivasi. Perharian kita btertuju pada konten media yang memiliki relevansi potensial terhadap hidup kita dan kebutuhan serta kepentingan pribadi. Kita mungkin akan menahan apa yang telah kita pelajari dan menambahnya ke dalam persediaan pengetahuan yang sebelumnya. Tingkatan ketiga yaitu produksi merujuk pada penerapan sesungguhnya dalam perilaku pedari pelajaran yang sudah dipelajari, dimana hal tersebut dapat dibeerikan imbalan atau dihukum, mengarah pada motivasi yang lebih kuat atu rendah untuk mengikuti jalur tertentu.[2]
Teori ini memiliki penerapan umum untuk mensosialisasikan efek media dan adopsi dari berbagai model tindakan. Teori ini berlaku untuk banyak permasalahan sehari-hari, misalnya busana, penampilan, gaya, kegiatan makan dan minum, model interaksi, dan konsumsi pribadi. Teori ini juga dapat mendukung tren jangka panjang. Menurut Bandura (1986), teori ini hanya perlaku pada perilaku yang secara langsung dilambangkan dalam bentuk simbolik. Teori ini juga menyiratkan keterlibatan yang aktif dalam bagian pihak yang belajar, dan pada kemampuan cerminan-diri individual. Hal ini tidak sama dengan imitasi atau mimikri. Media massa jarang hanya merupakan sumber tunggal pembelajaran social. Meskipun demikian, teori pembelajaran social menyatakan bahwa media dapat memiliki efek langsung terhadap orang-orang dan pengaruhnya tidak harus diperantarai oleh pengaruh pribadi di jejaring social (Bandura,2002:140).[3]
Mischel (1971) menjelaskan teori perilaku memberi peran yang penting bagi peneguhan (reinforcement) dan Imbalan (reward) dalam sebuah proses belajar dari media. Reinforcement dan perangsang telah ditunjukkan berulangkali sebagai pengaruh yang kuat dalam pilihan perilaku dan banyak situasi (setting). Pola perilaku juga tergantung pada harapan individu menyangkut hasil (the outcomes)
Teori Reinforment Imitasi ditemukan oleh Miller dan Dollard (1941) merinci kerangka teori ini dalam istilah Instrumental Coditioning yaitu same behavior, copying dan matched-dependent behaviour.
Same behaviour yaitu dua individu memberi respons masing-masing secara independen, tapi dalam cara yang sama terhadap stimuli lingkungan yang sama, sehingga sekalipun mereka terpisah tapi bias tampak seakan-akan terjadi peniruan.
Copying yaitu individu berusaha mencocokan perilakunya sedekat mungkin dengan perilaku orang lan. Proses ini terjadi dimana individu harus mampu memberi respon terhadap syarat-syarat atau tanda-tanda kesamaan.
Seorang individu belajar untuk menyamai tindakan orang lain karena ia memperoleh imbalan dari perilaku tiruannya (imitatifnya).

2.      Teori Model Sosial
Dalam berbagai situasi, perilaku manusia sangat dipengaruhi hanya Karena suatu kesempatan mengamati tindakan orang lain. Kita dapat meniru atau justru mengambil tindakan yang berbeda sama sekali dari apa yang kita lihat. Eksposure terhadap orang lain dapat mempengaruhi keadaan emosional (emotional state) seseorang. Itulah yang dimaksud proses modelling. Dari berbagai pengamatan terlihat bahwa laporan berita TV mempengaruhi konsep masyarakat mengenai reality atau kenyataan hidup dan lalu perilaku mereka dilengkapi dengan perasaan bahwa pertunjukan dramatic juga memiliki efek yang sama.tayangan TV sekarang sangat sulit dibedakan antara yang fakta dan fiksi karena merkea menampilkan dalam format acara yang hampir sama. Tayangan yang sesungguhnya hanya bersifat fiksi telah menjadi sesuatu yang nyata oleh masyarakat banyak. Itulah kekuatan sebuah media massa yang amat mempengaruhi perilaku masyarakat sebagai khalayak.
Teori model sosial yaitu perilaku khalayak yang dipengaruhi secara kuat oleh pengamatan lain (role model). Exposure mempengaruhi keadaan emosional seseorang.

3.      Teori Kultivasi
Analisis kultivasi adalah teori yang dikembangkan oleh George Gerbner pada tahun 1970 dan1980-an, memunculkan pertanyaan di tingkat makro mengenai peranan media dalam masyarakat walaupun teori ini mewakili sebuah aspek gabungan dari kombinasi antara teori kebudayaan makroskopik dengan mikroskopik. Beberapa  penelitian salanjutnya, sementara yang lain menganggapp teori ini sebagai sebuah contoh yang mungkin untuk penelitian selanjutnya sementara yang lain menganggap teori ini sebagai contoh yang buruk atas cara melakukan penelitian. Menurut kami, kontroversi ini merupakan poin penting dalam perkembangan teori komunikasi massa. Teori ini hadir ketika perspektif efek terbatas sangat kuat, tetapi mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan dan teori budaya mendapatkan perhatian yang lebih serius dari akademisi media. Kontroversi ini memperlihatkan begitu banyak ragam perspektif yang berlawanan yang beberapa masih diakui secara luas.[4]
Diantara teori-teori mengenai efek media jangka panjang, hipotesis dari Garbener (1973) barangkali merupakan yang didokumentasikan dengan paling baik dan paling banyak diteliti. Teori ini menyatakan bahwa televise, diantara media modern lainnya telah mendapatkan tempat yang utama dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mendominasi ‘lingkungan simbokik’ kita, mengganrikan pesan mengenai rrealitas untuk pengalaman pribadi dan alat lain untuk mengetahui mengenai realitas untuk pengalam pribadi dan alat lain untuk mengetahui mengenai dunia. Televise juga digambarkan dengan ‘lengan budaya dari tatanan industry yang mapan yang utamanya bertindak untuk memelihara, menstabilkan , dan meneguhkan alih –alih untuk menggeser, mengancam, atau melemahkan keyakinan serta perilaku konvensional (Gross, 1997:180).[5]
 Pernyataan ini membawa teori kultivasi sangat dekat dengan apa yang dinyatakan oleh para teoritikus dari Mahzab Frankfurt dan tidak jauh dari analisis Marxis. Menurut Signorielli dan Morgan (1990:15).[6]
Hipotesis utama dari penelitian ini adalah bahwa menonton televise secara berangsur-angsur mengarahkan pada adopsi keyakinan mengenai sifat dasar dari dunia social yang mengikuti pandangan akan realitas yang memiliki setereotip, tradistorsi, dan sangat selektif sebagaimana yang digambarkan dengan cara yang sistematis di fiksi dan berita televise. Kultivasi dikatakan berbeda dari proses stimulus-respons yang langsung, terutama karena karakternya yang lambat dan kumulatif. Teori ini melibatkan, pertama adalah pembelajaran, dan kedua, pembentukan pandangan akan realitas social tergantung pada keadaan dan pengalaman pribadi (misalnya kemiskinan, ras, atau gender) dan juga keanggotaan kelompok rujukan. Teori ini juga dilihat sebagai proses interaktif antara  pesan dan khalayak.[7]
Ahli teori kultivasi berpendapat bahwa kontribusi utama adalah kultivasi, sebuah proses kebudayaan yang berhubungan “dengan kerangka atau pengetahuan yang konsisten dan terhadap konsep yang secara umum mendasarinya… ditanamkan oleh ekspos dunia yang berkaitan dengan televise secara total daripada oleh ekspos program dan pilihan individu” (Gerbner, 1990, hlm.225).[8]
Teori kultivasi ini di awal perkembangannya lebih memfokuskan kajiannya pada studi televisi dan audience, khususnya pada tema-tema kekerasan di televisi. Tetapi dalam perkembangannya, ia juga bisa digunakan untuk kajian di luar tema kekerasan. Misalnya, seorang mahasiswa Amerika di sebuah universitas pernah mengadakan pengamatan tentang para pecandu opera sabun (heavy soap opera). Mereka, lebih memungkinkan melakukan affairs (menyeleweng), bercerai dan menggugurkan kandungan dari pada mereka yang bukan termasuk kecanduan opera sabun (Dominick, 1990).
Dalam Teori Kultivasi dijelaskan bahwa pada dasarnya ada dua tipe penonton televisi yang mempunyai karakteristik, yaitu :
a.       Mainstreaming
Para pecandu/penonton fanatik (heavy viewers) adalah mereka yang menonton televisi lebih dari 4 jam setiap harinya. Kelompok penonton ini sering juga disebut sebagai khalayak ‘the television type”.
b.      Resonansi (Pantulan)
Pemirsa melihat sesuatu di TV yang sama dengan realitas kehidupan mereka sendiri.
Teori kultivasi ini berlaku terhadap para pecandu / penonton fanatik, karena mereka semua adalah orang-orang yang lebih cepat percaya dan menganggap bahwa apa yang terjadi di televisi itulah dunia senyatanya. Para pecandu berat televisi (heavy viewers) akan menganggap bahwa apa yang terjadi di televisi itulah dunia senyatanya.

4.      Televisi
               Televisi merupakan media yang unik. Asumsi pertama menyatakan bahwa televisi merupakan media yang unik. Keunikan tersebut ditandai oleh karakteristik televisi yang bersifat:
                        1) Pervasive (menyebar dan hampir dimiliki seluruh keluarga);
2) Assesible (dapat diakses tanpa memerlukan kemampuan literasi atau keahlian lain),
3) Coherent (mempersentasikan pesan dengan dasar yang sama tentang masyarakat melintasi program dan waktu).
Berbagai keunggulan itu, televisi menjadi media favorit didalam keluarga dan juga masyarakat. TV merupakan media komunikasi massa keluarga dalam kehidupan sehari-hari. Setelah seseorang seharian telah menjalani aktivitas masing-masing, TV hadir sebagai sarana hiburan yang mudah ditemui ketika berada di rumah. TV telah dianggap sebagai anggota keluarga, bahkan, sebagai anggota keluarga yang paling banyak bercerita. TV menyediakan berbagai macam acar
a hiburan yang selalu diminati masyarakat, salah satunya program Talkshow.

5.      Talkshow
Talkshow adalah acara perbincangan yang bertujuan untuk tukar menukar pendapat serta diselingi dengan show yang ada relevansinya dengan topic perbincangan, dimana penyaji siaran bertindak sebagai pengantar, dan sekaligus mengambil peranan aktif tanpa menarik suatu kesimpulan. (J.B. Wahyudi, 1996:135).
Talkshow adalah program acara televise yang menarik dan sekaligus sebagai program yang mendidik bagi penonton adalah program Talk Show. Program ini dikatakan menidik karena merupakan program yang menghadirkan narasumber sebagai pembicara dalam hal meningkatkan wawasan bagi seseorang..
Berbagai acara Talk Show terdapat di berbagai stasiun televise, ini karena masyarakat Indonesia sangat menyukai tontonan hiburan yang mendidik. Contohnya saat ini, Talk show Sarah Sechan di Net Tv menjadi pilihan sebagai tontonan hiburan dikalangan masyarakat.

B.     Talk Show Sarah Sechan



Format
Talkshow
Sutradara Kreatif
Santika Permata
Natasya Helviana
Sangyang
Eralawyera S.
Alifia Kurniasih
Wiwit Novia
Susanti
Pembawa Acara
Sarah Sechan
Bahasa
Indonesia
Produksi
Produser Eksekutif
Nur Asfin Mardini
Produser
Hotmariarti
Elizabeth Purba
Lokasi
The East Building, Kuningan Timur, Jakarta Selatan
Durasi
60 Menit
Rumah Produksi
NET.
Entertainment
Siaran
Saluran Asli
NET.
Format Gambar
1080i (HDTV)
Siaran Sejak
19 Mei 2013




























Sarah Sechan adalah sebuah acara talkshow (bincang-bincang) Indonesia yang dibawakan oleh Sarah Sechan di NET. Setiap acaranya menyampaikan tema tertentu dengan berbincang-bincang dengan bintang tamu dan akan membahas sesuatu yang belum diketahui banyak orang. Talkshow ini diselingi dengan lawakan. Program ini akan ditambahkan item-item yang menarik dan akan melibatkan pemirsa di studio dan di rumah. Dikemas dalam suasana santai, menarik dan humoris namun tetap memberikan informasi yang berguna bagi masyarakat. Jam tayang Sarah Sechan yaitu Senin sampai Jumat pukul 13.00 dan Sabtu hingga Minggu pukul 18.00.

C.     Kasus Proses Peniruan dari Realitas Sosial  studi Talkshow Sarah Sechan
Hollywood boleh bangga memiliki seorang Ellen Degeners yang mahir mengocok perut dengan humor kreatifnya. Setelah itu ratu talkshow, Oprah Winfrey sukses dengan acara bincang-bincang yang berjudul sama dengan namanya. Ellen De Generes memang menjadi acara talkshow tersukses kedua yang mengikuti kesuksesan The Oprah Show.
Lain di Hollywood, lain pula di Indonesia. Sudah bukan berita baru bila acara talkshow di televisi Indonesia sebagian besar mengalami ambiguitas kategori tayangan. Jika acara bincang-bincang harusnya focus untuk membahas suatu hal, maka talkshow di industry hiburan nasional justru berubah menjadi variety show saking banyaknya pengisi acara dan tema yang dibahas tidak focus. Namun, ternyata masih ada beberapa talkshow yang memang konsisten mempertahankan tayangan sebagai acara bincang-bincang. Salah satunya yaitu Sarah Sechan, acara bincang-bincang santai yang dibawakan oleh mantan VJ MTv, Sarah Sechan.
Program acara Talkshow Sarah Sechan merupakan acara pilihan favorit masyarakat saat ini. Talkshow ini disajikan sangat santai dan penuh lawakan yang tidak mengandung SARA dan bersifat menindas atau membully. Disamping menyajikan hiburan, talkshow ini juga memberikan informasi yang dapat diterima masyarakat melalui bintang tamu yang hadir. Menurut saya, Talkshow ini aman ditonton oleh semua umur karena tidak bersifat membully dan menindas.
Sebagian besar acara televisi yang banyak diminati masyarakat, biasanya terdapat kasus proses peniruan dari realitas sosial acara televisi tersebut. Misalnya, peniruan tingkah laku atau gaya bicara tokoh yang ada dalam acara televisi tersebut. Adakah proses peniruan realitas dari talkshow Sarah Sechan? Hal itu akan saya bahas dan saya jawab di bagian Analisis Kasus.

D.    Analisis Kasus Proses Peniruan dari Realitas Sosial Talkshow Sarah Sechan
Dalam menganalisis Kasus Proses Peniruan dari Realitas Sosial Talkshow Sarah Sechan saya menggunakan Teori Social Learning, Teori Model Sosial dan Teori Kultivasi. Dalam teori social learning, Sarah Sechan sebagai perangsang yang telah ditunjukkan berulang kali sebagai pengaruh yang kuat dalam pilihan perilaku.
Dalam teori Model Sosial, Sarah Sechan dijadikan role model, sehingga terdapat beberapa peniruan yang dilakukan oleh khalayak yang menontonnya.
Dalam teori kultivasi, ditekankan seberapa sering khalayak menonton acara Sarah Sechan dalam seminggu dan apa dampak dari menonton acara Sarah Sechan.
Dari Analisis kasus tersebut, penulis membuat beberapa pertanyaan yang ditujukan kepada sample dari para penikmat acara Sarah Sechan. Pertanyaan-pertanyaan nya yaitu :
1.      Seberapa sering menonton acara Sarah Sechan?
2.      Apakah Alasan sering menonton Sarah Sechan?
3.      Adakah sesuatu yang ditiru setelah menonton Sarah Sechan?
4.      Adakah sesuatu yang ditiru oleh khalayak setelah menonton Sarah Sechan?

Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, 9 orang audiens saya wawancara dan rata-rata jawaban atas pertanyaan diatas adalah :
Rata-rata dari sample yang saya wawancarai, mereka menonton Sarah Sechan 3-4 hari dalam seminggu, angka ini menunjukkan mereka cukup sering menonton acara ini.
Mereka mengatakan, alasan mereka menonton Sarah Sechan, karena talkshow ini berbeda dengan talkshow yang lainnya, pembawaan nya ringan namun berisi informasi, lebih fresh, ringan dan bermanfaat serta mengihibur. Dalam acara ini juga tidak terdapat kekerasan berupa bully-ing terhadap seseorang, karena lawakan yang disajikan oleh pembawa acara nya isinya juga mengejek dirinya sendiri, sehingga tidak terdapat bully-ing terhadap pihak lain, selain itu juga lawakan yang seperti ini yang mengundang tawa dari para audiens yang menonton.
Setelah mereka menonton Sarah Sechan, mereka tidak terlalu meniru Sarah Sechan, karena ciri khas spontan dari Sarah, tetapi mereka menjadikan Sarah Sechan yang membawakan acara dengan santai dan menghibur hanya sebagai refrensi untuk mereka membawakan suatu acara agar menjadi seru seperti saat Sarah Sechan membawakan acara. Selain itu, ada juga yang jadi mengidolakan beberapa bintang tamu setelah bintang tamu tersebut diundang di acara Sarah Sechan Mereka suka dengan Sarah Sechan dalam pembawaan nya memandu sebuah acara.
Dalam Acara Sarah Sechan, ada beberapa yang ditiru khalayak terhadap Sarah Sechan  yaitu tingkah laku dan cara berbicara, tapi tidak banyak khalayak yang mengikutinya. Acara Sarah Sechan tidak banyak melahirkan suatu gaya berbicara atau karakteristik yang dicontoh oleh masyarakat, karena pembawaan Sarah Sechan yang bersifat spontan sehingga sulit ditiru oleh masyarakat.
Walaupun tidak terjadi terlalu banyak peniruan khalayak terhadap Sarah Sechan, nyatanya Talkshow ini dapat dikatakan sebagai refrensi talkshow modern yang aman ditonton oleh semua umur.

E.     Pengumpulan Data
Untuk penelitian tentang Proses peniruan dan Realitas Sosial Studi Talkshow Sarah Sechan, saya mengumpulkan data dengan melakukan wawancara langsung dan  lewat Blackberry Messenger. Saya mewawancarai 9 orang yang sering menonton acara ini dan orang yang tertarik dengan acara ini.















BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Model efek media yang secara luas dijadikan rujukan, adalah teori pembelajaran social dari Bandura (1986). Ide dasarnya adalah kita tidak dapat belajar semua atau bahkan sebagian besar dari apa yang kita perlukan untuk memandu perkembangan dan perilaku kita sendiri dari pengamatan dan pengalaman personal langsung saja.
Mischel (1971) menjelaskan teori perilaku memberi peran yang penting bagi peneguhan (reinforcement) dan Imbalan (reward) dalam sebuah proses belajar dari media. Reinforcement dan perangsang telah ditunjukkan berulangkali sebagai pengaruh yang kuat dalam pilihan perilaku dan banyak situasi (setting). Pola perilaku juga tergantung pada harapan individu menyangkut hasil (the outcomes).
Teori model sosial yaitu perilaku khalayak yang dipengaruhi secara kuat oleh pengamatan lain (role model). Exposure mempengaruhi keadaan emosional seseorang.
Teori kultivasi ini di awal perkembangannya lebih memfokuskan kajiannya pada studi televisi dan audience, khususnya pada tema-tema kekerasan di televisi. Tetapi dalam perkembangannya, ia juga bisa digunakan untuk kajian di luar tema kekerasan. Misalnya, seorang mahasiswa Amerika di sebuah universitas pernah mengadakan pengamatan tentang para pecandu opera sabun (heavy soap opera). Mereka, lebih memungkinkan melakukan affairs (menyeleweng), bercerai dan menggugurkan kandungan dari pada mereka yang bukan termasuk kecanduan opera sabun (Dominick, 1990).
Dalam Teori Kultivasi dijelaskan bahwa pada dasarnya ada dua tipe penonton televisi yang mempunyai karakteristik, yaitu :
c.       Mainstreaming
Para pecandu/penonton fanatik (heavy viewers) adalah mereka yang menonton televisi lebih dari 4 jam setiap harinya. Kelompok penonton ini sering juga disebut sebagai khalayak ‘the television type”.
d.      Resonansi (Pantulan)
Pemirsa melihat sesuatu di TV yang sama dengan realitas kehidupan mereka sendiri.
Dalam teori social learning, Sarah Sechan sebagai perangsang yang telah ditunjukkan berulang kali sebagai pengaruh yang kuat dalam pilihan perilaku.
Dalam teori Model Sosial, Sarah Sechan dijadikan role model, sehingga terdapat beberapa peniruan yang dilakukan oleh khalayak yang menontonnya.
Dalam teori kultivasi, ditekankan seberapa sering khalayak menonton acara Sarah Sechan dalam seminggu dan apa dampak dari menonton acara Sarah Sechan.
Setelah melakukan penelitian tentang proses peniruan dari realitas sosial tentang Sarah Sechan, ternyata tidak terlalu ada peniruan yang dilakukan khalayak setelah menonton acara tersebut, hanya beberapa orang saja yang mengikuti gaya berbicara dan tingkah laku Sarah Sechan. Sebagian besar penonton hanya menikmati tayangan dan pembawaan presenter dalam membawakan acara tersebut, tetapi terdapat beberapa penonton yang menjadikan Sarah Sechan sebagai refrensinya untuk membawakan acara, selain itu ada juga yang setelah menonton acara Sarah Sechan menjadi mengidolakan beberapa bintang tamu yang diundang dalam talkshow tersebut.





B.     Lampiran
                                  


           
DAFTAR PUSTAKA

Ardianto, Elvinaro, Lukiati Komala E. 2004. Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Denis Mc Quail. (2011).  Teori Komunikasi Massa. Jakarta : Salemba Humanika
Mulyana, Deddy.  2008. Komunikasi Massa (Kontroversi, Teori, dan Aplikasi). Bandung : Widya Padjajaran.
Nurudin. 2004. Komunikasi Massa. Malang: Cespur.
Rakhmat, Jalaluddin. 2005. Psikologi Komunikasi Edisi Revisi. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Stanley J.Baran, Dennis K. Davis. (2010), Teori Komunikasi Massa Dasar, Pergolakan dan Masa Kini, Jakarta : Salemba Humanika





[1] Stanley J.Baran dan Dennis Davis,Teori Komunikas Massa: Dasar, Pergolakan dan Massa Depan, Salemba Humanika, Jakarta, 2010, hal 227
[2] Denis McQuail, Teori Komunikasi Massa, Salemba Humanika, Jakarta 2011, hal 252
[3] Denis McQuail, Teori Komunikasi Massa, Salemba Humanika, Jakarta 2011, hal 252
[4] Stanley J.Baran dan Dennis Davis,Teori Komunikas Massa: Dasar, Pergolakan dan Massa Depan, Salemba 2010 hal 402
[5] Denis McQuail, Teori Komunikasi Massa, Salemba Humanika, Jakarta 2011, hal 256
[6] ibid
[7] Denis McQuail, Teori Komunikasi Massa, Salemba Humanika, Jakarta 2011, halaman 256-257
[8] Stanley J.Baran dan Dennis Davis,Teori Komunikas Massa: Dasar, Pergolakan dan Massa Depan, Salemba 2010 hal 402PROSES PENIRUAN DARI REALITAS SOSIAL
STUDI TALKSHOW SARAH SECHAN
Ditujukan untuk Memenuhi Nilai Ujian Akhir Smester
Mata Kuliah Sosiologi Komunikasi Massa
Description: C:\Users\USER\Documents\kuliah\Logo_UIN_Syarif_Hidayatullah_Jakarta.jpg
Hana Futari
Jurnalistik 5A
(1112051100024)
Dosen :
Deden Mauli Darajat ., M.SC


KONSENTRASI JURNALISTIK
FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2014
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang berfungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak beserta suara. Penemuan televise disejajarkan dengan penemuan roda, karena penemuan ini mampu mengubah peradaban dunia. Bahkan Catherine Cookson dan Charles Dickens menguraikan betapa mengesankannya medium yang dinamakan televisi sehingga televisi dianggap sebagai sebuah fenomena kultural, sekaligus medium dimana sepenggal aktivitas budaya hadir  di dalam rumah.
 Di Indonesia, sejarah sistem penyiaran televisi dimulai pada 17 Agustus 1962. Hari itu, Televisi Republik Indonesia (TVRI) lahir dan untuk pertama kalinya beroprasi. Pada awalnya, TVRI menyukseskan penyelenggaraan Asian Games ke-4 di Jakarta. Siaran TVRI sehubungan dengan Organizing Comitte Asian Games IV yang dibentuk khusus untuk event olahraga itu. Dibawah naungan Biro Radio dan Televisi Dapertemen Penerangan. Mulai 12 November 1962 TVRI mengudara secara regular setiap hari. Pada tahun 1988 mulai bermunculan stasiun-stasiun televisi swasta di Indonesia seperti RCTI (1988), SCTV (1989), TPI (1990), ANTV(1993), INDOSIAR (1995). Sampai sekarang banyak bermunculan televisi swasta seperti TRANS TV, Global TV, NET TV, METRO TV dan bentuk media lainnya yang semakin bebas memberikan tayangan yang disukai oleh khalayak.
Program-program yang ditayangkan televisi juga semakin beraneka ragam seperti berita, sinetron, film, kuis dan juga talkshow. Semua program-program tersebut tersebar hampir diseluruh stasiun televise di Indonesia. Program Talkshow adalah sebuah program televise atau radio dimana seseorang ataupun kelompok berkumpul bersama untuk membahas dan mendiskusikan berbagai hal topic dengan suasana santai namun serius, yang dipandu oleh seorang moderator. Kadangkala, talkshow menghadirkan tamu berkelompok yang ingin mempelajari berbahai pengalaman hebat. Di lain hal juga, sorang tamu dihadirkan oleh moderator untuk betbagi pengalaman.
Seiring berjalannya waktu, telvleisi semakin menjadi benda yang wajib dimiliki oleh setiap keluarga. Bahkan, televisi dapat diibaratkan menjadi salah satu anggota keluarga yang paling sering bercerita. Tidak hanya orang dewasa yang menikmati siaran-siaran televisi, anak-anak merupakan audiens yang paling sering menikmati siaran televisi. Bahkan, tidak sedikit pula anak-anak yang meniru adegan atau perilaku tokoh di tayangan televisi yang Ia lihat di televisi.
Dalam pembelajaran sosial melalui media, terdapat beberapa kategori yang menggambarkan seberapa jauh perilaku yang dipelajari orang melalui media. Imitasi, imitasi adalah duplikasi secara langsung. Kemudian Identifikasi, identifikasi adalah bentuk khusus imitasi yang meniru model yang tergeneralisasi melampaui tindakan tertentu. Berusaha untuk menjadi seperti model dengan kualitas yang lebih luas.[1]

B.     Rumusan Masalah
1.                  Apa penngertian Teori Social Learning atau Pembelajaran Sosial?
2.                  Perkembangan Teori Social Learning Terhadap Media Massa?
3.                  Dampak Teori Social Learning dalam Realitas Sosial Talkshow?
4.                  Apa kasus yangberhubungan dengan teori social learning yang  terdapat pada talkshow Sarah Sechan ?


C.     Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk memenuhi Tugas Ujian Akhir Semester mata kuliah Sosiologi Komunikasi Massa. Selain itu untuk mengetahui pengertian, perkembangan dan dampak dari Teori Social Learning, Teori Model Sosial dan Kultivasi serta mengetahui dampak dari talkshow  Sarah Sechan.























BAB II
PEMBAHASAN
A.    Landasan Teori
1.      Teori Social Learning
Model efek media yang secara luas dijadikan rujukan, adalah teori pembelajaran social dari Bandura (1986). Ide dasarnya adalah kita tidak dapat belajar semua atau bahkan sebagian besar dari apa yang kita perlukan untuk memandu perkembangan dan perilaku kita sendiri dari pengamatan dan pengalaman personal langsung saja. Kita harus banyak belajar dari sumber tidak langsung, termasuk media massa. Model Bandura menyatakan empat proses dasar dari pembelajaran social yang terjadi secara berurutan: perhatian, penahanan (ingatan),produksi, dan motivasi. Perharian kita btertuju pada konten media yang memiliki relevansi potensial terhadap hidup kita dan kebutuhan serta kepentingan pribadi. Kita mungkin akan menahan apa yang telah kita pelajari dan menambahnya ke dalam persediaan pengetahuan yang sebelumnya. Tingkatan ketiga yaitu produksi merujuk pada penerapan sesungguhnya dalam perilaku pedari pelajaran yang sudah dipelajari, dimana hal tersebut dapat dibeerikan imbalan atau dihukum, mengarah pada motivasi yang lebih kuat atu rendah untuk mengikuti jalur tertentu.[2]
Teori ini memiliki penerapan umum untuk mensosialisasikan efek media dan adopsi dari berbagai model tindakan. Teori ini berlaku untuk banyak permasalahan sehari-hari, misalnya busana, penampilan, gaya, kegiatan makan dan minum, model interaksi, dan konsumsi pribadi. Teori ini juga dapat mendukung tren jangka panjang. Menurut Bandura (1986), teori ini hanya perlaku pada perilaku yang secara langsung dilambangkan dalam bentuk simbolik. Teori ini juga menyiratkan keterlibatan yang aktif dalam bagian pihak yang belajar, dan pada kemampuan cerminan-diri individual. Hal ini tidak sama dengan imitasi atau mimikri. Media massa jarang hanya merupakan sumber tunggal pembelajaran social. Meskipun demikian, teori pembelajaran social menyatakan bahwa media dapat memiliki efek langsung terhadap orang-orang dan pengaruhnya tidak harus diperantarai oleh pengaruh pribadi di jejaring social (Bandura,2002:140).[3]
Mischel (1971) menjelaskan teori perilaku memberi peran yang penting bagi peneguhan (reinforcement) dan Imbalan (reward) dalam sebuah proses belajar dari media. Reinforcement dan perangsang telah ditunjukkan berulangkali sebagai pengaruh yang kuat dalam pilihan perilaku dan banyak situasi (setting). Pola perilaku juga tergantung pada harapan individu menyangkut hasil (the outcomes)
Teori Reinforment Imitasi ditemukan oleh Miller dan Dollard (1941) merinci kerangka teori ini dalam istilah Instrumental Coditioning yaitu same behavior, copying dan matched-dependent behaviour.
Same behaviour yaitu dua individu memberi respons masing-masing secara independen, tapi dalam cara yang sama terhadap stimuli lingkungan yang sama, sehingga sekalipun mereka terpisah tapi bias tampak seakan-akan terjadi peniruan.
Copying yaitu individu berusaha mencocokan perilakunya sedekat mungkin dengan perilaku orang lan. Proses ini terjadi dimana individu harus mampu memberi respon terhadap syarat-syarat atau tanda-tanda kesamaan.
Seorang individu belajar untuk menyamai tindakan orang lain karena ia memperoleh imbalan dari perilaku tiruannya (imitatifnya).

2.      Teori Model Sosial
Dalam berbagai situasi, perilaku manusia sangat dipengaruhi hanya Karena suatu kesempatan mengamati tindakan orang lain. Kita dapat meniru atau justru mengambil tindakan yang berbeda sama sekali dari apa yang kita lihat. Eksposure terhadap orang lain dapat mempengaruhi keadaan emosional (emotional state) seseorang. Itulah yang dimaksud proses modelling. Dari berbagai pengamatan terlihat bahwa laporan berita TV mempengaruhi konsep masyarakat mengenai reality atau kenyataan hidup dan lalu perilaku mereka dilengkapi dengan perasaan bahwa pertunjukan dramatic juga memiliki efek yang sama.tayangan TV sekarang sangat sulit dibedakan antara yang fakta dan fiksi karena merkea menampilkan dalam format acara yang hampir sama. Tayangan yang sesungguhnya hanya bersifat fiksi telah menjadi sesuatu yang nyata oleh masyarakat banyak. Itulah kekuatan sebuah media massa yang amat mempengaruhi perilaku masyarakat sebagai khalayak.
Teori model sosial yaitu perilaku khalayak yang dipengaruhi secara kuat oleh pengamatan lain (role model). Exposure mempengaruhi keadaan emosional seseorang.

3.      Teori Kultivasi
Analisis kultivasi adalah teori yang dikembangkan oleh George Gerbner pada tahun 1970 dan1980-an, memunculkan pertanyaan di tingkat makro mengenai peranan media dalam masyarakat walaupun teori ini mewakili sebuah aspek gabungan dari kombinasi antara teori kebudayaan makroskopik dengan mikroskopik. Beberapa  penelitian salanjutnya, sementara yang lain menganggapp teori ini sebagai sebuah contoh yang mungkin untuk penelitian selanjutnya sementara yang lain menganggap teori ini sebagai contoh yang buruk atas cara melakukan penelitian. Menurut kami, kontroversi ini merupakan poin penting dalam perkembangan teori komunikasi massa. Teori ini hadir ketika perspektif efek terbatas sangat kuat, tetapi mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan dan teori budaya mendapatkan perhatian yang lebih serius dari akademisi media. Kontroversi ini memperlihatkan begitu banyak ragam perspektif yang berlawanan yang beberapa masih diakui secara luas.[4]
Diantara teori-teori mengenai efek media jangka panjang, hipotesis dari Garbener (1973) barangkali merupakan yang didokumentasikan dengan paling baik dan paling banyak diteliti. Teori ini menyatakan bahwa televise, diantara media modern lainnya telah mendapatkan tempat yang utama dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mendominasi ‘lingkungan simbokik’ kita, mengganrikan pesan mengenai rrealitas untuk pengalaman pribadi dan alat lain untuk mengetahui mengenai realitas untuk pengalam pribadi dan alat lain untuk mengetahui mengenai dunia. Televise juga digambarkan dengan ‘lengan budaya dari tatanan industry yang mapan yang utamanya bertindak untuk memelihara, menstabilkan , dan meneguhkan alih –alih untuk menggeser, mengancam, atau melemahkan keyakinan serta perilaku konvensional (Gross, 1997:180).[5]
 Pernyataan ini membawa teori kultivasi sangat dekat dengan apa yang dinyatakan oleh para teoritikus dari Mahzab Frankfurt dan tidak jauh dari analisis Marxis. Menurut Signorielli dan Morgan (1990:15).[6]
Hipotesis utama dari penelitian ini adalah bahwa menonton televise secara berangsur-angsur mengarahkan pada adopsi keyakinan mengenai sifat dasar dari dunia social yang mengikuti pandangan akan realitas yang memiliki setereotip, tradistorsi, dan sangat selektif sebagaimana yang digambarkan dengan cara yang sistematis di fiksi dan berita televise. Kultivasi dikatakan berbeda dari proses stimulus-respons yang langsung, terutama karena karakternya yang lambat dan kumulatif. Teori ini melibatkan, pertama adalah pembelajaran, dan kedua, pembentukan pandangan akan realitas social tergantung pada keadaan dan pengalaman pribadi (misalnya kemiskinan, ras, atau gender) dan juga keanggotaan kelompok rujukan. Teori ini juga dilihat sebagai proses interaktif antara  pesan dan khalayak.[7]
Ahli teori kultivasi berpendapat bahwa kontribusi utama adalah kultivasi, sebuah proses kebudayaan yang berhubungan “dengan kerangka atau pengetahuan yang konsisten dan terhadap konsep yang secara umum mendasarinya… ditanamkan oleh ekspos dunia yang berkaitan dengan televise secara total daripada oleh ekspos program dan pilihan individu” (Gerbner, 1990, hlm.225).[8]
Teori kultivasi ini di awal perkembangannya lebih memfokuskan kajiannya pada studi televisi dan audience, khususnya pada tema-tema kekerasan di televisi. Tetapi dalam perkembangannya, ia juga bisa digunakan untuk kajian di luar tema kekerasan. Misalnya, seorang mahasiswa Amerika di sebuah universitas pernah mengadakan pengamatan tentang para pecandu opera sabun (heavy soap opera). Mereka, lebih memungkinkan melakukan affairs (menyeleweng), bercerai dan menggugurkan kandungan dari pada mereka yang bukan termasuk kecanduan opera sabun (Dominick, 1990).
Dalam Teori Kultivasi dijelaskan bahwa pada dasarnya ada dua tipe penonton televisi yang mempunyai karakteristik, yaitu :
a.       Mainstreaming
Para pecandu/penonton fanatik (heavy viewers) adalah mereka yang menonton televisi lebih dari 4 jam setiap harinya. Kelompok penonton ini sering juga disebut sebagai khalayak ‘the television type”.
b.      Resonansi (Pantulan)
Pemirsa melihat sesuatu di TV yang sama dengan realitas kehidupan mereka sendiri.
Teori kultivasi ini berlaku terhadap para pecandu / penonton fanatik, karena mereka semua adalah orang-orang yang lebih cepat percaya dan menganggap bahwa apa yang terjadi di televisi itulah dunia senyatanya. Para pecandu berat televisi (heavy viewers) akan menganggap bahwa apa yang terjadi di televisi itulah dunia senyatanya.

4.      Televisi
               Televisi merupakan media yang unik. Asumsi pertama menyatakan bahwa televisi merupakan media yang unik. Keunikan tersebut ditandai oleh karakteristik televisi yang bersifat:
                        1) Pervasive (menyebar dan hampir dimiliki seluruh keluarga);
2) Assesible (dapat diakses tanpa memerlukan kemampuan literasi atau keahlian lain),
3) Coherent (mempersentasikan pesan dengan dasar yang sama tentang masyarakat melintasi program dan waktu).
Berbagai keunggulan itu, televisi menjadi media favorit didalam keluarga dan juga masyarakat. TV merupakan media komunikasi massa keluarga dalam kehidupan sehari-hari. Setelah seseorang seharian telah menjalani aktivitas masing-masing, TV hadir sebagai sarana hiburan yang mudah ditemui ketika berada di rumah. TV telah dianggap sebagai anggota keluarga, bahkan, sebagai anggota keluarga yang paling banyak bercerita. TV menyediakan berbagai macam acar
a hiburan yang selalu diminati masyarakat, salah satunya program Talkshow.

5.      Talkshow
Talkshow adalah acara perbincangan yang bertujuan untuk tukar menukar pendapat serta diselingi dengan show yang ada relevansinya dengan topic perbincangan, dimana penyaji siaran bertindak sebagai pengantar, dan sekaligus mengambil peranan aktif tanpa menarik suatu kesimpulan. (J.B. Wahyudi, 1996:135).
Talkshow adalah program acara televise yang menarik dan sekaligus sebagai program yang mendidik bagi penonton adalah program Talk Show. Program ini dikatakan menidik karena merupakan program yang menghadirkan narasumber sebagai pembicara dalam hal meningkatkan wawasan bagi seseorang..
Berbagai acara Talk Show terdapat di berbagai stasiun televise, ini karena masyarakat Indonesia sangat menyukai tontonan hiburan yang mendidik. Contohnya saat ini, Talk show Sarah Sechan di Net Tv menjadi pilihan sebagai tontonan hiburan dikalangan masyarakat.

B.     Talk Show Sarah Sechan



Format
Talkshow
Sutradara Kreatif
Santika Permata
Natasya Helviana
Sangyang
Eralawyera S.
Alifia Kurniasih
Wiwit Novia
Susanti
Pembawa Acara
Sarah Sechan
Bahasa
Indonesia
Produksi
Produser Eksekutif
Nur Asfin Mardini
Produser
Hotmariarti
Elizabeth Purba
Lokasi
The East Building, Kuningan Timur, Jakarta Selatan
Durasi
60 Menit
Rumah Produksi
NET.
Entertainment
Siaran
Saluran Asli
NET.
Format Gambar
1080i (HDTV)
Siaran Sejak
19 Mei 2013




























Sarah Sechan adalah sebuah acara talkshow (bincang-bincang) Indonesia yang dibawakan oleh Sarah Sechan di NET. Setiap acaranya menyampaikan tema tertentu dengan berbincang-bincang dengan bintang tamu dan akan membahas sesuatu yang belum diketahui banyak orang. Talkshow ini diselingi dengan lawakan. Program ini akan ditambahkan item-item yang menarik dan akan melibatkan pemirsa di studio dan di rumah. Dikemas dalam suasana santai, menarik dan humoris namun tetap memberikan informasi yang berguna bagi masyarakat. Jam tayang Sarah Sechan yaitu Senin sampai Jumat pukul 13.00 dan Sabtu hingga Minggu pukul 18.00.

C.     Kasus Proses Peniruan dari Realitas Sosial  studi Talkshow Sarah Sechan
Hollywood boleh bangga memiliki seorang Ellen Degeners yang mahir mengocok perut dengan humor kreatifnya. Setelah itu ratu talkshow, Oprah Winfrey sukses dengan acara bincang-bincang yang berjudul sama dengan namanya. Ellen De Generes memang menjadi acara talkshow tersukses kedua yang mengikuti kesuksesan The Oprah Show.
Lain di Hollywood, lain pula di Indonesia. Sudah bukan berita baru bila acara talkshow di televisi Indonesia sebagian besar mengalami ambiguitas kategori tayangan. Jika acara bincang-bincang harusnya focus untuk membahas suatu hal, maka talkshow di industry hiburan nasional justru berubah menjadi variety show saking banyaknya pengisi acara dan tema yang dibahas tidak focus. Namun, ternyata masih ada beberapa talkshow yang memang konsisten mempertahankan tayangan sebagai acara bincang-bincang. Salah satunya yaitu Sarah Sechan, acara bincang-bincang santai yang dibawakan oleh mantan VJ MTv, Sarah Sechan.
Program acara Talkshow Sarah Sechan merupakan acara pilihan favorit masyarakat saat ini. Talkshow ini disajikan sangat santai dan penuh lawakan yang tidak mengandung SARA dan bersifat menindas atau membully. Disamping menyajikan hiburan, talkshow ini juga memberikan informasi yang dapat diterima masyarakat melalui bintang tamu yang hadir. Menurut saya, Talkshow ini aman ditonton oleh semua umur karena tidak bersifat membully dan menindas.
Sebagian besar acara televisi yang banyak diminati masyarakat, biasanya terdapat kasus proses peniruan dari realitas sosial acara televisi tersebut. Misalnya, peniruan tingkah laku atau gaya bicara tokoh yang ada dalam acara televisi tersebut. Adakah proses peniruan realitas dari talkshow Sarah Sechan? Hal itu akan saya bahas dan saya jawab di bagian Analisis Kasus.

D.    Analisis Kasus Proses Peniruan dari Realitas Sosial Talkshow Sarah Sechan
Dalam menganalisis Kasus Proses Peniruan dari Realitas Sosial Talkshow Sarah Sechan saya menggunakan Teori Social Learning, Teori Model Sosial dan Teori Kultivasi. Dalam teori social learning, Sarah Sechan sebagai perangsang yang telah ditunjukkan berulang kali sebagai pengaruh yang kuat dalam pilihan perilaku.
Dalam teori Model Sosial, Sarah Sechan dijadikan role model, sehingga terdapat beberapa peniruan yang dilakukan oleh khalayak yang menontonnya.
Dalam teori kultivasi, ditekankan seberapa sering khalayak menonton acara Sarah Sechan dalam seminggu dan apa dampak dari menonton acara Sarah Sechan.
Dari Analisis kasus tersebut, penulis membuat beberapa pertanyaan yang ditujukan kepada sample dari para penikmat acara Sarah Sechan. Pertanyaan-pertanyaan nya yaitu :
1.      Seberapa sering menonton acara Sarah Sechan?
2.      Apakah Alasan sering menonton Sarah Sechan?
3.      Adakah sesuatu yang ditiru setelah menonton Sarah Sechan?
4.      Adakah sesuatu yang ditiru oleh khalayak setelah menonton Sarah Sechan?

Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, 9 orang audiens saya wawancara dan rata-rata jawaban atas pertanyaan diatas adalah :
Rata-rata dari sample yang saya wawancarai, mereka menonton Sarah Sechan 3-4 hari dalam seminggu, angka ini menunjukkan mereka cukup sering menonton acara ini.
Mereka mengatakan, alasan mereka menonton Sarah Sechan, karena talkshow ini berbeda dengan talkshow yang lainnya, pembawaan nya ringan namun berisi informasi, lebih fresh, ringan dan bermanfaat serta mengihibur. Dalam acara ini juga tidak terdapat kekerasan berupa bully-ing terhadap seseorang, karena lawakan yang disajikan oleh pembawa acara nya isinya juga mengejek dirinya sendiri, sehingga tidak terdapat bully-ing terhadap pihak lain, selain itu juga lawakan yang seperti ini yang mengundang tawa dari para audiens yang menonton.
Setelah mereka menonton Sarah Sechan, mereka tidak terlalu meniru Sarah Sechan, karena ciri khas spontan dari Sarah, tetapi mereka menjadikan Sarah Sechan yang membawakan acara dengan santai dan menghibur hanya sebagai refrensi untuk mereka membawakan suatu acara agar menjadi seru seperti saat Sarah Sechan membawakan acara. Selain itu, ada juga yang jadi mengidolakan beberapa bintang tamu setelah bintang tamu tersebut diundang di acara Sarah Sechan Mereka suka dengan Sarah Sechan dalam pembawaan nya memandu sebuah acara.
Dalam Acara Sarah Sechan, ada beberapa yang ditiru khalayak terhadap Sarah Sechan  yaitu tingkah laku dan cara berbicara, tapi tidak banyak khalayak yang mengikutinya. Acara Sarah Sechan tidak banyak melahirkan suatu gaya berbicara atau karakteristik yang dicontoh oleh masyarakat, karena pembawaan Sarah Sechan yang bersifat spontan sehingga sulit ditiru oleh masyarakat.
Walaupun tidak terjadi terlalu banyak peniruan khalayak terhadap Sarah Sechan, nyatanya Talkshow ini dapat dikatakan sebagai refrensi talkshow modern yang aman ditonton oleh semua umur.

E.     Pengumpulan Data
Untuk penelitian tentang Proses peniruan dan Realitas Sosial Studi Talkshow Sarah Sechan, saya mengumpulkan data dengan melakukan wawancara langsung dan  lewat Blackberry Messenger. Saya mewawancarai 9 orang yang sering menonton acara ini dan orang yang tertarik dengan acara ini.















BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Model efek media yang secara luas dijadikan rujukan, adalah teori pembelajaran social dari Bandura (1986). Ide dasarnya adalah kita tidak dapat belajar semua atau bahkan sebagian besar dari apa yang kita perlukan untuk memandu perkembangan dan perilaku kita sendiri dari pengamatan dan pengalaman personal langsung saja.
Mischel (1971) menjelaskan teori perilaku memberi peran yang penting bagi peneguhan (reinforcement) dan Imbalan (reward) dalam sebuah proses belajar dari media. Reinforcement dan perangsang telah ditunjukkan berulangkali sebagai pengaruh yang kuat dalam pilihan perilaku dan banyak situasi (setting). Pola perilaku juga tergantung pada harapan individu menyangkut hasil (the outcomes).
Teori model sosial yaitu perilaku khalayak yang dipengaruhi secara kuat oleh pengamatan lain (role model). Exposure mempengaruhi keadaan emosional seseorang.
Teori kultivasi ini di awal perkembangannya lebih memfokuskan kajiannya pada studi televisi dan audience, khususnya pada tema-tema kekerasan di televisi. Tetapi dalam perkembangannya, ia juga bisa digunakan untuk kajian di luar tema kekerasan. Misalnya, seorang mahasiswa Amerika di sebuah universitas pernah mengadakan pengamatan tentang para pecandu opera sabun (heavy soap opera). Mereka, lebih memungkinkan melakukan affairs (menyeleweng), bercerai dan menggugurkan kandungan dari pada mereka yang bukan termasuk kecanduan opera sabun (Dominick, 1990).
Dalam Teori Kultivasi dijelaskan bahwa pada dasarnya ada dua tipe penonton televisi yang mempunyai karakteristik, yaitu :
c.       Mainstreaming
Para pecandu/penonton fanatik (heavy viewers) adalah mereka yang menonton televisi lebih dari 4 jam setiap harinya. Kelompok penonton ini sering juga disebut sebagai khalayak ‘the television type”.
d.      Resonansi (Pantulan)
Pemirsa melihat sesuatu di TV yang sama dengan realitas kehidupan mereka sendiri.
Dalam teori social learning, Sarah Sechan sebagai perangsang yang telah ditunjukkan berulang kali sebagai pengaruh yang kuat dalam pilihan perilaku.
Dalam teori Model Sosial, Sarah Sechan dijadikan role model, sehingga terdapat beberapa peniruan yang dilakukan oleh khalayak yang menontonnya.
Dalam teori kultivasi, ditekankan seberapa sering khalayak menonton acara Sarah Sechan dalam seminggu dan apa dampak dari menonton acara Sarah Sechan.
Setelah melakukan penelitian tentang proses peniruan dari realitas sosial tentang Sarah Sechan, ternyata tidak terlalu ada peniruan yang dilakukan khalayak setelah menonton acara tersebut, hanya beberapa orang saja yang mengikuti gaya berbicara dan tingkah laku Sarah Sechan. Sebagian besar penonton hanya menikmati tayangan dan pembawaan presenter dalam membawakan acara tersebut, tetapi terdapat beberapa penonton yang menjadikan Sarah Sechan sebagai refrensinya untuk membawakan acara, selain itu ada juga yang setelah menonton acara Sarah Sechan menjadi mengidolakan beberapa bintang tamu yang diundang dalam talkshow tersebut.





B.     Lampiran
                                  


            
DAFTAR PUSTAKA

Ardianto, Elvinaro, Lukiati Komala E. 2004. Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Denis Mc Quail. (2011).  Teori Komunikasi Massa. Jakarta : Salemba Humanika
Mulyana, Deddy.  2008. Komunikasi Massa (Kontroversi, Teori, dan Aplikasi). Bandung : Widya Padjajaran.
Nurudin. 2004. Komunikasi Massa. Malang: Cespur.
Rakhmat, Jalaluddin. 2005. Psikologi Komunikasi Edisi Revisi. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Stanley J.Baran, Dennis K. Davis. (2010), Teori Komunikasi Massa Dasar, Pergolakan dan Masa Kini, Jakarta : Salemba Humanika




[1] Stanley J.Baran dan Dennis Davis,Teori Komunikas Massa: Dasar, Pergolakan dan Massa Depan, Salemba Humanika, Jakarta, 2010, hal 227
[2] Denis McQuail, Teori Komunikasi Massa, Salemba Humanika, Jakarta 2011, hal 252
[3] Denis McQuail, Teori Komunikasi Massa, Salemba Humanika, Jakarta 2011, hal 252
[4] Stanley J.Baran dan Dennis Davis,Teori Komunikas Massa: Dasar, Pergolakan dan Massa Depan, Salemba 2010 hal 402
[5] Denis McQuail, Teori Komunikasi Massa, Salemba Humanika, Jakarta 2011, hal 256
[6] ibid
[7] Denis McQuail, Teori Komunikasi Massa, Salemba Humanika, Jakarta 2011, halaman 256-257
[8] Stanley J.Baran dan Dennis Davis,Teori Komunikas Massa: Dasar, Pergolakan dan Massa Depan, Salemba 2010 hal 402

Tidak ada komentar:

Posting Komentar