Daftar Blog Saya

Rabu, 25 November 2015

MENYUSUN ARGUMEN

MENYUSUN STRUKTUR ARGUMEN
A.     Pengertian Argumen
Argumentasi merupakn inti dari bagian terbanyak penulisan ilmiah. Secara Ringkas, dalam sebuah tulisan ilmiah penulisa menyampaikan pendapatnya tentang suatu gejala, konsep atau teori tentunya dengan harapan bahwa ia dapat meyakinkan pembacanya akan kebenaran pendapatnya. Oleh karena itu,  seseorang penulis harus benar-benar memahami apa yang dimaksud dengan sebuah argument. Ia perlu tahu jenis-jenis pernyataan yang diajukan dengan cara merangkaikan semuanya dengan benar.[1]

B.      Unsur-unsur Argumen
Sebuah Argumen dapat disampaikan dalam beberapa kalimat, beberapa alinea atau sebuah tulisan sepanjang satu buku. Berapapun panjangnya sebuah argument, juta dapat mengkajinya dengan memperhatikan unsur-unsur pembentuknya. Ada berbagai cara yang dipergunakan untuk membedah sebuah argument, yang semuanya merupkan modifikasi dari logika formal. Berikut ini akan dibacakan tentang beberapa cara sebuah argument terstruktur.

Logika Formal
Argument dalam logika formal memiliki paling sedikit tiga buah pernyataa. Pernyataan pertama adalah premis mayor, yaitu sebuah pernyatan umum tentang hubungan antara dua hal: A dan B. Pernyataan kedua adalah Premis Minor, yaitu pernyataan yang lebih spesifik tentang sebuah hal baru (C), yang dihubungkan pada hal A. Pernyataan ketiga adalah kesimpulan yang engaitkan B dengan C (Remage dan Bean 199:98).
Contoh :
                Premis Mayor                : Setiap manusia (A) akan mati (B).
                Premis Minor : Sokrates (C) adalah manusia (A).
                Kesimpulan     : Sokrates (C) akan mati (B).

Rumusan seperti ini disebut silogisme, dan dilihat dari susunan pernyataannya dan  jenis hubungan antara hal-hal yang terkandung dalam setiap pernyataan, ada berbagai bentuk silogisme yang mungkin dirumuskan[2].

C.      Keterbatasan Logika Formal
Keterbasan dari logika formal adalah bahwa perhatian kita tertuju pada struktur argument saja dan tidak pada isi atau kebenaran dari pernyataan-pernyataannya.[3]
D.     Struktur Argumen dari Toulmin
Stephen Toulmin mengajukan cara lain untuk melihat sebuah argument, yng memperhatikan struktur argument maupun isi dari pernyatan-pernyataanya.[4] Ia berpendapat bahwa sebuah argument harus terdiri dari enam unsur yaitu ;
Grounds : segala data atau informasi yang kita miliki dan dapat dijadikan dasar untuk membuat sebuah pernyataan.
Claim    : kesimpulan atau pernyataan yang ingin kita ajukan, yang didasarkan atas grounds.
Warrant :  pernyataan yang menghubungkan sebuah claim dengan grounds yang ada.
Backing : bukti-bukti untuk mendukung warrant.
Qualifier : pernyataan yang menunjukan besarnya kemungkinan claim.
Condition for rebuttal (kondisi penyangkalan) : pernyataan tentang pengecualian-pengecualian terhadap claim.

Skema Toulmin lebih tepat bagi penulis karena tujuan penulisan ilmiah pada umumnya adalah untuk meyakinkan pembaca tentang kebenaran pernyataan-pernyataan penulis. Penulis dapat membayangkan seorang pembaca yang siap mempertanyyakan tiap-tiap pernyataan yang dibuat penulis.

E.      Kesalahan-kesalaha dalam Argumen
Banyak argument yang memiliki kelemahan karena mengandung kesalahan-kesalahan yang bersifat informal. Ini adalah kesalahan-kesalahan yang tidak terkait pada struktur logis sebuah argument yang dapat jelas terlihat salah atau benar tetapi pada hal-hal yang hanya dapat dikira-kira. Apabila kita berbicara tentang kesalahan informal, seringkali kita temukan bahwa penilaian orang dapat berbeda-beda. Serrangkaian kalimat yang dianggap tidak tepat oleh satu orang mungkin saja dianggap benar oleh orang lain. Berikut adalah uraian dari beberapa kesalahan yang sering dilakukan seorang penulis ;
·         Supporting Idea : Pengulangan dari controlling idea dengan pilihan kata yang berbeda
·         False dilemma : apabila penulis menyederhanakan sebuah argument sehingga seolah-olah hanya ada dua kemungkinan dalam masalah yang dibahasnya.
·         Post hoc, ego propter hoc : kesalahan yang terjadi ketika seseorang menganggap urutan kejadian sebagai hubungan sebab-akibat.
·         Kesimpulan yang terlalu luas berdasarkan data yang sedikit
·         Kesalahan dalam penggunaan analogy
·         Mengacu pada otoritas yang salah
·         Mengacu pada pribadi lawan dan bukan pada argumennya
·         Terlalu menyederhanakan pendapat-pendapat yang berlawanan dengan pendapat sendiri
·         Menyajikan bukti yang tidak dapat dikaji langsung oleh pembaca
·         Mengacu pada premis-premis irrasional
·         Menganggap hal-hal yang sudah dikenal sebagai hal yang lebih baik daripada yang belum dikenal

KESIMPULAN
Menulis bukanlah sesuatu yang mudah, namun juga bukan sesuatu yang amat sulit. Kunci dari penulisan yang baik adlah pemahaman tentang objek penulisan itu sendiri. Dengan bantuan skema Toulmin, seorang penulis dapat menguji pemahamannya dengan mempertanyakan terlebih dahulu setiap pernyataan yang akan dibuatnya. Ia perlu mengetahui pernyataan mana saja yang membutuhkan penjelasan dan pembenaran lebih lanjut, dan ia perlu mengetahui pula jenis-jenis pernyataan yang dibuatnya apakah sebuah claim, stated reason, warrant atau lainnya. Pemahaman tentang struktru argument, masalah yang menjadi objek penulisanny, serta pembaca yang dituju akan membantu seorang penulis menghindari kelemahan dalam berargumen maupun membuat kesalahan-ksalahan informal dan menjadikannya seorang penulis yang baik.



DAFTAR PUSTAKA
Copi, I.M dan K. Burghes-Jackson, 1996, Logika Informal. Saddle River: Prentice Hall
Keraf G, 1987 Argumentasi dan Narasi. Jakarta: Gramedia
Ramage, J.D dan J.C Bean,1992, Menulis Argumen: Retorika dengan Menulis. New York: Mac Milan
Yunita T Winarto,2004, Karya Tulis Ilmiah Sosial. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia



[1] Yunita T.Winarno, Karya Tulis Ilmiah Sosial, (Jakarta:2004), Yayasan Obor Jakarta
[2] Keraf G, Argumentasi dan Narasi. (Jakarta: 1987), Gramedia 
[3] Copi I.M dan K. Burghess-Jackson, Logika Informal, (Saddle River : 1996), Prentice Hall. hal 57
[4] Remage dan Bean, Menulis Argumen Retorika dengan Membaca, (NewYork:1992), MacMillan, hal.100 

KETIMPANGAN ISI BERITA DAN KENDALA-KENDALA BAGI PERUBAHAN TERHADAPNYA

KETIMPANGAN ISI BERITA DAN KENDALA-KENDALA
BAGI PERUBAHAN TERHADAPNYA
Ditujukan untuk memenuhi tugas Ujian Akhir Semester
 mata kuliah SistemKomunkasi Internasional
Description: Description: C:\Users\USER\Documents\kuliah\Logo_UIN_Syarif_Hidayatullah_Jakarta.jpg
                                            Dosen I : Prof. Dr. Andi Faisal Bakti, M.A
Dosen II : Muhammad Yusfik, M.A
Disusun Oleh :
Hana Futari
(1112051100024)
Jurnalistik 6A



KONSENTRASI JURNALISTIK
FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGRI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2015
Nama: Hana Futari                                                                  Dosen I: Prof. Dr. Andi Faisal Bakti
NIM: 1112051100024                                                                        Dosen II: Muhammad. Yusfik, MA
ABSTRAK
KETIMPANGAN ISI BERITA DAN KENDALA-KENDALA BAGI PERUBAHAN TERHADAPNYA
Ketimpangan isi berita saat ini dapat dirasakan sebagian besar masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan isi berita tentang dunia ketiga jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah berita negara maju. Ketimpangan ini juga dipandang sebagai “ketidakadilan” isi arus. Di satu sisi, ketimpangan isi berita internasional merupakan bentuk ketidakadilan terhadap dunia ketiga. Di sisi lain media sebagai lembaga bisnis menjual poduk yang laris di kalangan pelanggannya. Jelasnya, ini dilihat dari fungsi isi berita.
Berdasarkan konteks di atas, maka tujuan tulisan ini adalah untuk menjawab pertanyan mayor dan minor. Adapun mayornya adalah bagaimana bentuk ketimpangan isi berita dan kendala untuk perubahan terhadapnya? Kemudian, minornya adalah mengapa berita internasional berorientasi pada kebutuhan media barat? Apa yang dilakukan oleh wartawan Barat menanggapi tuntutan dari dunia ketiga? Apakah negara berkembang tidak memiliki arti penting di kantor berita internasional?
Bentuk ketimpangan isi berita yang terlihat yaitu isi berita tentang Dunia Ketiga adalah jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah berita tentang dunia maju. Padahal,  proposisi penduduk di dunia keiga jauh lebih besar dari proposisi penduduk di dunia maju. Selain itu, jumlah berita yang sedikit ini pun cenderung hanya berisikan berita-berita tentang konflik dan cara pemberitaannya cenderung merefleksikan nilai-nilai Barat bukan nilai-nilai setempat.
Teori yang digunakan adalah Teori Dependensi. Teori ini melihat permasalahan pembangunan dari dunia ketiga. Menurut Theotonio Dos Santos, dependensi adalah suatu keadaan di mana kehidupan ekonomi suatu Negara dipengaruhi oleh Negara lain. Teori dependensi lebih menitikberatkan pada persoalan keterbelakangan dan pembangunan Negara pinggiran. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa teori dependensi mewakili “suara Negara-negara pinggiran” untuk menentang hegemoni ekonomi, politik, budaya dan intelektual dari Negara maju (Bakti,2004, 43-44).
Masalah ketimpangan isi berita termasuk dalam teori dependesi. Kehidupan dunia ketiga bergantung pada Negara maju. Begitupun kantor berita internasional yang menjadikan Negara maju sebagai penentu perekonomiannya sehingga kantor berita internasional membuat berita yang tidak berimbang antara Negara maju dan dunia ketiga.
Media Barat dapat lebih banyak memberikan keuntungan pada media internasional. Para wartawan barat tampaknya semakin menyadari keberatan-keberatan yang diajukan DUnia Ketiga, sehingga mereka lebih menunjukkan kepedulian. Pelanggan di negara-negara berkembang juga memiliki arti penting namun dalam skala proritas lebih rendah.
ketimpangan terjadi pada isi berita disebabkan kantor berita harus memilih berita yang “laku dipasaran” karena berita yang disajikan harus meningkatkan pendapatan pada kantor berita tersebut. Dalam hal ini negara maju mempunyai prioritas yang tinggi dibandingkan dengan negara berkembang. Namun seharusnya isi berita harus memperhatikan perkembangan dari negara-negara berkembang sebagai pemberitaan.
Kata kunci : ketimpangan, isi berita, negara maju, dunia ketiga, ekonomi

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Bentuk ketimpangan isi berita yang terlihat yaitu isi berita    tentang Dunia Ketiga adalah jauh lebih sedikit dibandingkan jumlah berita tentang dunia maju. Padahal, proposisi penduduk di Dunia Ketiga jauh lebih besar dibandingakan proposisi penduduk di Negara  Maju. Selain itu, jumlah berita yang sedikit inipun cenderung hanya berisikan berita-berita tentang konflik dan cara pemberitaannya cenderung merefleksikan nilai-nilai Barat bukan nilai-nilai setempat.
Berdasarkan konteks di atas, maka tujuan tulisan ini adalah untuk menjawab pertanyaan mayor dan minor yang akan dijelaskan setelaha ini.

B.     Pertanyaan mayor dan minor
Dalam makalah yang berjudul “Ketimpangan Isi Berita dan Kendala-kendala Bagi Perubahan Terhadapnya” terdapat satu pertanyaan mayor dan tiga pertanyaan minor, yakni :
a)      Pertanyaan Mayor
1.      Bagaimana bentuk dan bukti ketimpangan isi berita yang terjadi di berita internasional?
b)      Pertanyaan Minor
1.      Mengapa berita internasional berorientasi pada kebutuhan media barat?
2.      Apakah Negara berkembang tidak memiliki arti penting di kantor berita internasional?
3.      Apa yang dilakukan oleh wartawan Barat menanggapi tuntutan dari dunia ketiga?

C.     Pernyataan Penelitian
Ketimpangan isi berita saat ini dapat dirasakan sebagian besar masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan bentuk-bentuk ketimpangan isi berita. Bentuk dari ketimpangan isi berita, secara ringkas dapat dilihat dari isi berita tentang Dunia Ketiga adalah jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah berita tentang dunia maju, padahal proporsi penduduk di dunia ketiga adalah jauh lebih besar dari proporsi penduduk di dunia maju. Kemudian jumlah berita yang sedikit ini pun cenderung hanya berisikan berita-berita tentang konflik, bencana, kerusuhan, dingkatnya berita-berita negative dan sensasional. Berita negative itu cenderung ditempatkan sebagai beridiri sendiri tanpa ditempatkan sebagai bagian dari sebuah proses, misalnya yang diberitakan hanyalah meletusnya kerusuhan tanpa dijelaskan secara mendalam kaitanya dengan berbagai konteks sosial-politik-ekonomi-kebudayaan yang menyebabkan kerusuhan itu terjadi. Selain itu, cara pemberitaannya cenderung merefleksikan nilai-nilai Barat, bukan nilai-nilai setempat. Yang terakhir bentuk ketimpangannya dilihat dari dimensi pembangunan dania ketiga sangat diabaikan [1].
 Ada sejumlah kondisi objektif yang melatarbelakangi sikap perimis terhadap ketimpangan isi berita. Bagi kantor berita Barat, Berita merupakan komoditi untuk dijual kepada pembeli di seluruh dunia. Artinya, mereka adalah lembaga bisnis yang menggunakan prinsip-prinsip bisnis yaitu dengan mengumpulkan dan menjal berita dengan biaya serendah-rendahnya dengan cara yang paling bias menarik sebesar-besarnya pembeli.[2]
Dengan demikian, bagi para kantor berita ini justru sangat wajar jika isi berita internasional mereka lebih terfokus pada berita-berita Negara maju. Pembaca Negara maju tentu saja lebih menyukai berita tentang wilayahnya sendiri daripada wilayah lain, terlebih jika wilayah lain tersebut adalah wilayang yang dianggap tidak memiliki arti penting.
Namun tidaklah berarti bahwa pelanggan di Negara-negara berkembang tidak memiliki arti penting di kantor para kantor berita tersebut. Semakin banyak pembeli adalah semakin baik. misalnya ditunjukkan dengan kenyataan bahwa di Negara-negara tertentu dengan kondisi ekonomi rendah dan jumlah penduduk sedikit harga berlangganan yang ditetapkan kantor berita tersebut bagi media atau kentor berita nasional di Negara itu bias jauh lebih rendah dari harga di daerah-daerah lainnya, semata-mata untuk menjaring lbih banyak pembeli. Jadi, pelanggan di dunia ketiga tetap dianggap penting, namun dalam skala prioritas lebih rendah.
Para wartawan barat tampaknya semakin menyadari keberatan-keberatan yang diajukan DUnia Ketiga, sehingga mereka lebih menunjukkan kepedulian terhadap pelaporan mendalam, lebih banyak menaruh perhatian pada kompleksitas perosalan-persoalan Negara-negara berkembang dan sebagainya.






















BAB II
ISI
A.    Teori
Teori Ketergantungan (Dependency Theory) Teori Dependensi kali pertama muncul di Amerika Latin. Pada awal kelahirannya, teori ini lebih merupakan jawaban atas kegagalan program yang dijalankan oleh ECLA (United  Nation Economic Commission for Latin Amerika) pada masa awal tahun 1960-an.[3]
Lembaga tersebut dibentuk dengan tujuan untuk mampu menggerakan perekonomian di negara-negara Amerika Latin dengan membawa percontohan teori Modernisasi yang telah terbukti berhasil di Eropa. Teori Dependensi juga lahir atas respon ilmiah terhadap pendapat kaum Marxis Klasik tentang pembangunan yang dijalankan di negara maju dan berkembang. Aliran neo-marxisme yang kemudian menopang keberadaan teori dependensi ini. Teori ketergantungan (dependency theory) adalah teori yang sering dikaitkan dengan Marxisme, menyatakan bahwa sejumlah negara inti mengeksploitasi beberapa negara yang lebih lemah demi kemakmuran mereka. Berbagai versi teori ini menyatakan bahwa hal ini bisa bersifat tidak terhindarkan (teori ketergantungan standar) atau memakai teori tersebut untuk menekankan perlunya perubahan (Neo-Marxis).
            Teori ketergantungan merupakan kelompok yang mengkhususkan penelitiannya  pada hubungan antara negara Dunia Pertama dan Dunia Ketiga. Teori Ketergantungan yang pada awalnya memusatkan perhatian pada negara-negara Amerika Selatan adalah pandangan mereka yang membuka mata terhadap akibat dominasi ekonomi. Ini bisa dilihat dari membumbungnya utang kesenjangan sosial-ekonomi dari pembangunan di banyak negara Dunia Ketiga.
Teori ini lebih berpengaruh kepada negara ketiga atau negara kurang maju dalam kerugiannya, dan negara maju justru berpengaruh dalam keuntungannya. Ada dua hal yang dalam keberpengaruhan tersebut. Pertama

 Negara bekas jajahan (negara ketiga) dapat menyediakan sumber daya manusia dan sumber daya alam, semua hal itu menjadi investasi yang menguntungkan bagi negara pertama (penjajah atau negara maju). Kedua, negara kurang maju (negara ketiga) dapat menjadi pasar untuk hasil produksi negara maju dan hal ini adalah kegiatan eksploitasi yang menyebabkan negara-negara kurang maju mengalami kemiskinan terus-menerus.
Teori ketergantungan sebagai teori yang muncul sebagai kritikan dari teori modernisasi. Jika sebelumnya menurut teori modernisasi bahwa pembangunan itu seharusnya berkiblat dan mencontoh negara negara barat yang terlebih dahulu maju, dan penyebab tidak berkembangnya sebuah negara dikarena faktor-faktor dalam negara tersebut yang menghambat gerak  pembangunan
Tokoh utama dari teori Dependensi adalah Theotonio Dos Santos dan Andre Gunder Frank. Theotonio Dos Santos mendefinisikan bahwa ketergantungan adalah hubungan relasional yang tidak imbang antara negara maju dan negara miskin dalam pembangunan di kedua kelompok negara tersebut.[4]
Dia menjelaskan bahwa kemajuan negara Dunia Ketiga hanyalah akibat dari ekspansi ekonomi negara maju dengan kapitalismenya. Jika terjadi sesuatu negatif di negara maju, maka negara berkembang akan mendapat dampak negatifnya pula. Sedangkan jika hal negatif terjadi di negara berkembang, maka belum tentu negara maju akan menerima dampak tersebut. Sebuah hubungan yang tidak imbang. Artinya, positif-negatif dampak berkembang  pembangunan di negara maju akan dapat membawa dampak pada Negara. Teori ketergantungan yang menekankan bahwa aspek eksternal dari pembangunan menjadi penting. Negara-negara yang ekonominya lebih kuat, bukan saja menghambat karena menang dalam bersaing, tetapi juga ikut campur dalam mengubah struktur sosial, politik, dan ekonomi Negara yang lebih lemah. Menurut Robert A Packenham Kekuatan teori ketergantungan: menekankan pada aspek internasional, mempersoalkan akibat dari politik luar negeri (industri terhadap pinggiran), mengkaitkan perubahan internal negara pinggiran dengan  politik luar negeri negara maju, mengaitkan antara analisis ekonomi dengan analisis  politik, membahas antar kelas dalam negeri dan hubungan kelas antar-negara dalam konteks internasional, memberikan definisi yang berbeda tentang pembangunan ekonomi (tentang sosial, antar-daerah dan antarnegara)

B.     Konsep
Masalah ketimpangan isi berita termasuk dalam teori depndensi..Kehidupan dunia ketiga dinilai bergantung pada Negara maju.begitupun kantor berita internasional yang menjadikan Negara maju sebagai penentu perekonomiannya sehingga kantor berita internasioanl membuat berita yang tidak berimbang antara Negara maju dan dunia ketiga. Ketimpangan ini terjadi dikarenakan berita dinilai sebagai produk yang harus dijual. Sedangkan, pelanggan dari produk tersebut mayoritas berasal dari Negara maju. Sedangkan, berita mengenai Negara maju lebih laku ‘dipasaran’ Negara maju tersebut. Sehingga kantor berita internasional harus menciptakan produk yang disenangi oleh pelanggan sehingga dapat mendatangkan profit yang sebanyak-banyaknya bagi kantor berita internasional tersebut.
Tidak jarang berita internasional menyajikan berita dari Dunia Ketiga namun berita yang disajikan mayoritas berisi berita negative seperti peperangan, bencana alam, terorisme dan lain sebagainya, sedangkan berita Negara maju disajikan berita-berita positif seperti pembangunan Negara.
Terdapat cukup bukti bahwa apa yang disebut-sebut sebagai berita pembangunan tidak cukup menarik minat, bahkan di kalangan Negara-negara sendiri. Jadi, Negara-negara berkembang masyarakatnya tidak perduli terhadap berita pembangunan di Negaranya sendiri.
Hal ini yang membuat berita internasional lebih memfokuskan berita tentang dunia maju karena dianggap masyarakatnya merupakan masyarakat yang konsumtif akan berita terlebih mengenai negaranya sendiri.


C.     Analisis
Terjadinya ketimpangan-ketimpangan isi arus berita internasional dibuktikan dengan beberapa bukti mendasar, antara lain;
a)      Isi berita tenang Dunia Ketiga adalah jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah berita tentang dunia maju, padahal proporsi penduduk di dunia ketiga adalah jauh lebih besar dari proporsisi penduduk di dunia maju
b)      Jumlah berita yang sedikit ini pun cenderung  hanya erisikan berita tentang konflik,  bencana, kerusuhan, singkatnya berita-berita negative dan sensansional.
c)      Berita negative itu cenderung ditempatkan sebagai berdiri sendiri tanpa ditempatkan sebagai bagian dari sebuah proses, misalnya yang diberitakan hanyalah meletusnya kerusuhan, tanpa dijelaskan secara mendalam kaitannya dengan bernbagai konteks sosial-politik-ekonomi-kebudayaan yang menyebabkan kerusuhan itu terjadi.
d)     Cara pemberitaannya cenderung merefleksikan nilai-nilai Barat, bukan nilai-nilai setempat
e)      Dimensi pembangunan dunia ketiga sangat diabaikan.
Hingga saat ini fenomena-fenomena seperti ketidakmerataan informasi, media yang melaksanakan perannya secara tidak objektif, dan minimnya informasi yang dikeluarkan oleh media massa membuat proses komunikasi, pemahaman dan pembentukan opini masyarakat menjadi tidak optimal sebagai menunjukkan implikasi dari adanya ketimpangan arus dan isi informasi.
Hal ekonomi lah yang penulis rasa menjadi faktor ketimpangan berita internasional. Ada sejumlah kondisi objektif yang melatarbelakangi ketimpangan berita Internasional tersebut. Bagi para kantor berita Barat, berita merupakan sebuah produk yang dihasilkan untuk dijual, sehingga produk berupa berita tersebut dibuat laku dipasaran untuk mendatangkan profit yang sebesar-besarnya. Maka itulah dibuat berita yang laku dikalangan pelanggan utama. Yang dimaksud pelanggan utama adalah masyarakat Negara maju. Sehingga berita-berita dibuat untuk memenuhi selara masyarakat Barat yang notabane nya sebagai pelanggan utama dari berita-berita Internasional. Masyarakat-masyarakat dimanapun lebih menyukai berita tentang Negaranya sendiri ataupun Negara yang memiliki arti penting. Itu mengapa berita Internasional dibuat lebih tertuju pada berita negara maju karena mayoritas pelanggan berita adalah masyarakat Negara maju.
Selain itu, berbagai faktor dan elemen dapat mempengaruhi pola, proses, dan substansi penyampaian informasi kepada masyarakat. Faktor-faktor inilah yang kemudian perlu dikaji agar dapat ditemukan satu benang merah yang menawarkan jawaban untuk dapat mengatasi persoalan ketimpangan arus dan isi informasi.
Faktor yang pertama adalah adanya perbedaan ideologi maupun sistem yang digunakan oleh negara-negara di dunia. Hal ini dikarena sistem atau ideologi negara inilah yang kemudian menentukan batas-batas fleksibilitas, pola, serta proporsi penyampaian informasi melalui pers. Jika suatu negara menggunakan prinsip-prinsip demokrasi, negara tersebut akan memberlakukan kebijakan yang lebih mengutamakan kepada kebebasan pers untuk mencari informasi dan menyampaikannya dalam bentuk berita kepada masyarakat. Pemerintahan demokrasi juga menggunakan pers sebagai check and balance terhadap kinerja pemerintaha dengan memanfaatkan informasi yang dilaporkan pers melalui sudut pandang pers. Di negara-negara demokratis cenderung tidak memperlihatkan ketimpangan arus maupun isi informasi.
Lemahnya infrastruktur dan sistem informasi menyebabkan masyarakat tidak dapat memperoleh informasi tepat waktu. Mungkin sebagai contoh Indonesia sebagai negara berkembang. Walaupun untuk di kota-kota besar seperti Jakarta , Bandung, Jogja, dan kota-kota lainnya akses informasi sangat mudah diperoleh, akan tetapi kenyatan sebaliknya masih terjadi di wilayah wilayah terpencil atau yang berada sangat jauh jaraknya dari pusat pemerintahan atau pusat kota. Contoh nyata adalah masyarakat yang tinggal di daerah perbatasan antara Malaysia dan Kalimantan Barat. Keadaan yang terpencil minimnya sarana penyedia informasi, membuat masyarakat di daerah ini memiliki pengetahuan tentang perkembangan dalam negeri yang minim dan ironisnya mereka bahkan memiliki akses informasi yang jauh lebih mudah tentang keadaan Malaysia karena media informasi Malaysia sangat mudah diakses di daerah ini.
Selanjutnya, adanya muatan kepentingan yang menunggangi media massa untuk membentuk opini publik. Memang, media massa sangat berperan dalam pembentukan opini publik melalui informasi, spekulasi, dan analisis yan disampaikannya kepada masyarakat. Beberapa media pers yang ditunggangi oleh kepentingan sang pemilik menyebabkan perbedaan informasi atau posi pemberitaan yang berbeda pula dengan media pers lainnya.
Ketimpangan berita berimplikasi pada sejumlah hal antara lain ;
1.      Mereka lebih berorientasi pada kebutuhan media Barat karena media Barat yang menjadi basis pelanggan utama, para pelanggan media barat lebih banyak memberikan keuntungan. Media barat lebih kaya dan lbih mampu menjadi pelanggan dibandingkan Negara berkembang.
2.      Untuk menghemat pembiayaan, kantor berita besar semakin membatasi jumlah koresponden asing mereka. Masalahnya, biayanya telah menjadi semakin mahal jika menambah koresponden dari banyak Negara.
3.      Keempat kantor berita harus mengandalkan corak berita yang “laku dibeli”. Sayangnya, terdapat cukup bukti bahwa apa yang disebut-sebut sebagai “berita pembangunan”, tidak cukup menarik minat.
4.      Para kantor berita tersebut harus menawarkan sebanyak-banyaknya berita dengan cara secpat-cepatnya untuk menarik sebanyak-banyaknya pembeli.







BAB III
KESIMPULAN
Ketimpangan isi berita Internasional didasari oleh presentase berita dari Negera Maju lebih banyak dibandingkan negera berkembang. Hal ini menjadikan Negara berkembang merasakan ketidakadilan terhadap isi arus berita internasional. Kasus ini dapat dikaitkan dengan teori dependensi dimana teori ini melihat permasalahan pembangunan dari dunia ketiga. Menurut Theotonio Dos Santos, dependensi adalah suatu keadaan di mana kehidupan ekonomi suatu Negara dipengaruhi oleh Negara lain. Teori dependensi lebih menitikberatkan pada persoalan keterbelakangan dan pembangunan Negara pinggiran. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa teori dependensi mewakili “suara Negara-negara pinggiran” untuk menentang hegemoni ekonomi, politik, budaya dan intelektual dari Negara maju.
Hal yang menyebabkan ketimpangan berita terjadi karena beberapa faktor dan faktor ekonomi adalah faktor utamanya. Berita diumpamakan sebagai sebuah produk yang dihasilkan dan akan dijual dengan tujuan mendapatkan untung yang sebesar-besarnya. Sehingga berita dibuat berdasarkan selera pelanggannya. Pelanggan utama dari berita Internasional adalah masyarakat dari Negara Maju sehingga pemberitaan dibuat berdasarkan selera dari masyarakat Negara Maju
Namun seharusnya, isi berita harus memperhatikan perkembangan dari Dunia Ketiga sebagai pemberitaannya. Karena Dunia Ketiga juga memiliki hak untuk diberitakan seperti Negara Maju.







DAFTAR PUSTAKA

Ade Armando (2007). Komunikasi Internasional. Jakarta: Universitas Terbuka

Mansour Fakih (2009).Teori Pembangunan dan Globalisasi , Jakarta: INSISTPress

http://blogberii.blogspot.com/2010/12/teori-ketergantungan-dependency.html




[1] Ade Armando, Komunikasi Internasional, Universitas Terbuka, Jakarta 2007 hal 5.20
[2] Ade Armando, Komunikasi Internasional, Universitas Terbuka, Jakarta 2007 hal 5.21
[3] Mansour Fakih,Teori Pembangunan dan Globalisasi (Jakarta: INSISTPress, 2009
[4] http://blogberii.blogspot.com/2010/12/teori-ketergantungan-dependency.html