KETIMPANGAN
ISI BERITA DAN KENDALA-KENDALA
BAGI
PERUBAHAN TERHADAPNYA
Ditujukan untuk memenuhi tugas Ujian Akhir Semester
mata kuliah
SistemKomunkasi Internasional
Dosen
I : Prof. Dr. Andi Faisal Bakti, M.A
Dosen
II : Muhammad Yusfik, M.A
Disusun
Oleh :
Hana
Futari
(1112051100024)
Jurnalistik
6A
KONSENTRASI
JURNALISTIK
FAKULTAS
ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS
ISLAM NEGRI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2015
Nama: Hana Futari Dosen I: Prof. Dr. Andi
Faisal Bakti
NIM: 1112051100024 Dosen
II: Muhammad. Yusfik, MA
ABSTRAK
KETIMPANGAN ISI BERITA DAN
KENDALA-KENDALA BAGI PERUBAHAN TERHADAPNYA
Ketimpangan isi berita saat ini dapat dirasakan sebagian besar masyarakat. Hal ini dibuktikan
dengan isi berita tentang dunia ketiga jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah berita negara maju. Ketimpangan ini juga dipandang sebagai
“ketidakadilan” isi arus. Di satu sisi, ketimpangan isi berita internasional merupakan
bentuk ketidakadilan terhadap dunia ketiga. Di sisi lain
media sebagai lembaga bisnis menjual poduk yang laris di kalangan pelanggannya. Jelasnya, ini dilihat dari fungsi
isi berita.
Berdasarkan
konteks di atas, maka tujuan tulisan ini adalah untuk menjawab pertanyan mayor
dan minor. Adapun mayornya adalah bagaimana bentuk ketimpangan isi berita dan
kendala untuk perubahan terhadapnya? Kemudian, minornya adalah mengapa berita internasional berorientasi pada kebutuhan media barat? Apa
yang dilakukan oleh wartawan Barat menanggapi tuntutan dari dunia ketiga? Apakah negara berkembang tidak memiliki arti penting di
kantor berita internasional?
Bentuk
ketimpangan isi berita yang terlihat yaitu isi berita tentang Dunia Ketiga
adalah jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah berita tentang dunia maju. Padahal, proposisi penduduk di dunia keiga
jauh lebih besar dari proposisi penduduk di dunia maju. Selain itu, jumlah
berita yang sedikit ini pun cenderung hanya berisikan berita-berita tentang
konflik dan cara pemberitaannya cenderung merefleksikan nilai-nilai Barat bukan
nilai-nilai setempat.
Teori yang
digunakan adalah Teori Dependensi. Teori ini melihat permasalahan pembangunan
dari dunia ketiga. Menurut Theotonio Dos Santos, dependensi adalah suatu
keadaan di mana kehidupan ekonomi suatu Negara dipengaruhi oleh Negara lain.
Teori dependensi lebih menitikberatkan pada persoalan keterbelakangan dan
pembangunan Negara pinggiran. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa teori
dependensi mewakili “suara Negara-negara pinggiran” untuk menentang hegemoni
ekonomi, politik, budaya dan intelektual dari Negara maju (Bakti,2004, 43-44).
Masalah
ketimpangan isi berita termasuk dalam teori dependesi. Kehidupan dunia ketiga
bergantung pada Negara maju. Begitupun kantor berita internasional yang
menjadikan Negara maju sebagai penentu perekonomiannya sehingga kantor berita
internasional membuat berita yang tidak berimbang antara Negara maju dan dunia
ketiga.
Media Barat dapat lebih banyak
memberikan keuntungan pada media internasional. Para
wartawan barat tampaknya semakin menyadari keberatan-keberatan yang diajukan
DUnia Ketiga, sehingga mereka lebih menunjukkan kepedulian. Pelanggan di negara-negara berkembang juga memiliki arti penting namun
dalam skala proritas lebih rendah.
ketimpangan
terjadi pada isi berita disebabkan kantor berita harus memilih berita yang
“laku dipasaran” karena berita yang disajikan harus meningkatkan pendapatan
pada kantor berita tersebut. Dalam hal ini negara maju mempunyai prioritas yang
tinggi dibandingkan dengan negara berkembang. Namun seharusnya isi berita harus memperhatikan
perkembangan dari negara-negara berkembang sebagai pemberitaan.
Kata kunci :
ketimpangan, isi berita, negara maju, dunia ketiga, ekonomi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Bentuk ketimpangan isi berita yang terlihat
yaitu isi berita tentang Dunia Ketiga
adalah jauh lebih sedikit dibandingkan jumlah berita tentang dunia maju.
Padahal, proposisi penduduk di Dunia Ketiga jauh lebih besar dibandingakan
proposisi penduduk di Negara Maju.
Selain itu, jumlah berita yang sedikit inipun cenderung hanya berisikan
berita-berita tentang konflik dan cara pemberitaannya cenderung merefleksikan
nilai-nilai Barat bukan nilai-nilai setempat.
Berdasarkan konteks di atas, maka tujuan
tulisan ini adalah untuk menjawab pertanyaan mayor dan minor yang akan
dijelaskan setelaha ini.
B. Pertanyaan
mayor dan minor
Dalam makalah yang berjudul “Ketimpangan
Isi Berita dan Kendala-kendala Bagi Perubahan Terhadapnya” terdapat satu
pertanyaan mayor dan tiga pertanyaan minor, yakni :
a) Pertanyaan
Mayor
1. Bagaimana
bentuk dan bukti ketimpangan isi berita yang terjadi di berita internasional?
b) Pertanyaan
Minor
1. Mengapa
berita internasional berorientasi pada kebutuhan media barat?
2. Apakah
Negara berkembang tidak memiliki arti penting di kantor berita internasional?
3. Apa
yang dilakukan oleh wartawan Barat menanggapi tuntutan dari dunia ketiga?
C. Pernyataan
Penelitian
Ketimpangan isi berita saat ini dapat
dirasakan sebagian besar masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan bentuk-bentuk
ketimpangan isi berita. Bentuk dari ketimpangan isi berita, secara ringkas
dapat dilihat dari isi berita tentang Dunia Ketiga adalah jauh lebih sedikit
dibandingkan dengan jumlah berita tentang dunia maju, padahal proporsi penduduk
di dunia ketiga adalah jauh lebih besar dari proporsi penduduk di dunia maju.
Kemudian jumlah berita yang sedikit ini pun cenderung hanya berisikan
berita-berita tentang konflik, bencana, kerusuhan, dingkatnya berita-berita
negative dan sensasional. Berita negative itu cenderung ditempatkan sebagai
beridiri sendiri tanpa ditempatkan sebagai bagian dari sebuah proses, misalnya
yang diberitakan hanyalah meletusnya kerusuhan tanpa dijelaskan secara mendalam
kaitanya dengan berbagai konteks sosial-politik-ekonomi-kebudayaan yang
menyebabkan kerusuhan itu terjadi. Selain itu, cara pemberitaannya cenderung
merefleksikan nilai-nilai Barat, bukan nilai-nilai setempat. Yang terakhir
bentuk ketimpangannya dilihat dari dimensi pembangunan dania ketiga sangat
diabaikan .
Ada sejumlah kondisi objektif yang
melatarbelakangi sikap perimis terhadap ketimpangan isi berita. Bagi kantor
berita Barat, Berita merupakan komoditi untuk dijual kepada pembeli di seluruh
dunia. Artinya, mereka adalah lembaga bisnis yang menggunakan prinsip-prinsip
bisnis yaitu dengan mengumpulkan dan menjal berita dengan biaya
serendah-rendahnya dengan cara yang paling bias menarik sebesar-besarnya
pembeli.
Dengan demikian, bagi para kantor berita
ini justru sangat wajar jika isi berita internasional mereka lebih terfokus
pada berita-berita Negara maju. Pembaca Negara maju tentu saja lebih menyukai
berita tentang wilayahnya sendiri daripada wilayah lain, terlebih jika wilayah
lain tersebut adalah wilayang yang dianggap tidak memiliki arti penting.
Namun tidaklah berarti bahwa pelanggan
di Negara-negara berkembang tidak memiliki arti penting di kantor para kantor
berita tersebut. Semakin banyak pembeli adalah semakin baik. misalnya
ditunjukkan dengan kenyataan bahwa di Negara-negara tertentu dengan kondisi
ekonomi rendah dan jumlah penduduk sedikit harga berlangganan yang ditetapkan
kantor berita tersebut bagi media atau kentor berita nasional di Negara itu
bias jauh lebih rendah dari harga di daerah-daerah lainnya, semata-mata untuk
menjaring lbih banyak pembeli. Jadi, pelanggan di dunia ketiga tetap dianggap
penting, namun dalam skala prioritas lebih rendah.
Para wartawan barat tampaknya semakin
menyadari keberatan-keberatan yang diajukan DUnia Ketiga, sehingga mereka lebih
menunjukkan kepedulian terhadap pelaporan mendalam, lebih banyak menaruh
perhatian pada kompleksitas perosalan-persoalan Negara-negara berkembang dan
sebagainya.
BAB II
ISI
A. Teori
Teori Ketergantungan (Dependency Theory)
Teori Dependensi kali pertama muncul di Amerika Latin. Pada awal kelahirannya,
teori ini lebih merupakan jawaban atas kegagalan program yang dijalankan oleh
ECLA (United Nation Economic Commission
for Latin Amerika) pada masa awal tahun 1960-an.
Lembaga tersebut dibentuk dengan tujuan
untuk mampu menggerakan perekonomian di negara-negara Amerika Latin dengan
membawa percontohan teori Modernisasi yang telah terbukti berhasil di Eropa.
Teori Dependensi juga lahir atas respon ilmiah terhadap pendapat kaum Marxis
Klasik tentang pembangunan yang dijalankan di negara maju dan berkembang.
Aliran neo-marxisme yang kemudian menopang keberadaan teori dependensi ini.
Teori ketergantungan (dependency theory) adalah teori yang sering dikaitkan
dengan Marxisme, menyatakan bahwa sejumlah negara inti mengeksploitasi beberapa
negara yang lebih lemah demi kemakmuran mereka. Berbagai versi teori ini
menyatakan bahwa hal ini bisa bersifat tidak terhindarkan (teori ketergantungan
standar) atau memakai teori tersebut untuk menekankan perlunya perubahan
(Neo-Marxis).
Teori
ketergantungan merupakan kelompok yang mengkhususkan penelitiannya pada hubungan antara negara Dunia Pertama dan
Dunia Ketiga. Teori Ketergantungan yang pada awalnya memusatkan perhatian pada
negara-negara Amerika Selatan adalah pandangan mereka yang membuka mata
terhadap akibat dominasi ekonomi. Ini bisa dilihat dari membumbungnya utang
kesenjangan sosial-ekonomi dari pembangunan di banyak negara Dunia Ketiga.
Teori ini lebih berpengaruh kepada
negara ketiga atau negara kurang maju dalam kerugiannya, dan negara maju justru
berpengaruh dalam keuntungannya. Ada dua hal yang dalam keberpengaruhan
tersebut. Pertama
Negara bekas jajahan (negara ketiga) dapat
menyediakan sumber daya manusia dan sumber daya alam, semua hal itu menjadi
investasi yang menguntungkan bagi negara pertama (penjajah atau negara maju).
Kedua, negara kurang maju (negara ketiga) dapat menjadi pasar untuk hasil
produksi negara maju dan hal ini adalah kegiatan eksploitasi yang menyebabkan
negara-negara kurang maju mengalami kemiskinan terus-menerus.
Teori ketergantungan sebagai teori yang
muncul sebagai kritikan dari teori modernisasi. Jika sebelumnya menurut teori
modernisasi bahwa pembangunan itu seharusnya berkiblat dan mencontoh negara
negara barat yang terlebih dahulu maju, dan penyebab tidak berkembangnya sebuah
negara dikarena faktor-faktor dalam negara tersebut yang menghambat gerak pembangunan
Tokoh utama dari teori Dependensi adalah
Theotonio Dos Santos dan Andre Gunder Frank. Theotonio Dos Santos mendefinisikan
bahwa ketergantungan adalah hubungan relasional yang tidak imbang antara negara
maju dan negara miskin dalam pembangunan di kedua kelompok negara tersebut.
Dia menjelaskan bahwa kemajuan negara
Dunia Ketiga hanyalah akibat dari ekspansi ekonomi negara maju dengan
kapitalismenya. Jika terjadi sesuatu negatif di negara maju, maka negara
berkembang akan mendapat dampak negatifnya pula. Sedangkan jika hal negatif
terjadi di negara berkembang, maka belum tentu negara maju akan menerima dampak
tersebut. Sebuah hubungan yang tidak imbang. Artinya, positif-negatif dampak
berkembang pembangunan di negara maju
akan dapat membawa dampak pada Negara. Teori
ketergantungan yang menekankan bahwa aspek eksternal dari pembangunan menjadi
penting. Negara-negara yang ekonominya lebih kuat, bukan saja menghambat karena
menang dalam bersaing, tetapi juga ikut campur dalam mengubah struktur sosial,
politik, dan ekonomi Negara yang lebih lemah. Menurut Robert A Packenham
Kekuatan teori ketergantungan: menekankan pada aspek internasional,
mempersoalkan akibat dari politik luar negeri (industri terhadap pinggiran),
mengkaitkan perubahan internal negara pinggiran dengan politik luar negeri negara maju, mengaitkan
antara analisis ekonomi dengan analisis
politik, membahas antar kelas dalam negeri dan hubungan kelas
antar-negara dalam konteks internasional, memberikan definisi yang berbeda
tentang pembangunan ekonomi (tentang sosial, antar-daerah dan antarnegara)
B. Konsep
Masalah ketimpangan isi berita termasuk
dalam teori depndensi..Kehidupan dunia ketiga dinilai bergantung pada Negara
maju.begitupun kantor berita internasional yang menjadikan Negara maju sebagai
penentu perekonomiannya sehingga kantor berita internasioanl membuat berita
yang tidak berimbang antara Negara maju dan dunia ketiga. Ketimpangan ini
terjadi dikarenakan berita dinilai sebagai produk yang harus dijual. Sedangkan,
pelanggan dari produk tersebut mayoritas berasal dari Negara maju. Sedangkan,
berita mengenai Negara maju lebih laku ‘dipasaran’ Negara maju tersebut.
Sehingga kantor berita internasional harus menciptakan produk yang disenangi
oleh pelanggan sehingga dapat mendatangkan profit yang sebanyak-banyaknya bagi
kantor berita internasional tersebut.
Tidak jarang berita internasional
menyajikan berita dari Dunia Ketiga namun berita yang disajikan mayoritas
berisi berita negative seperti peperangan, bencana alam, terorisme dan lain
sebagainya, sedangkan berita Negara maju disajikan berita-berita positif
seperti pembangunan Negara.
Terdapat cukup bukti bahwa apa yang
disebut-sebut sebagai berita pembangunan tidak cukup menarik minat, bahkan di
kalangan Negara-negara sendiri. Jadi, Negara-negara berkembang masyarakatnya
tidak perduli terhadap berita pembangunan di Negaranya sendiri.
Hal ini yang membuat berita
internasional lebih memfokuskan berita tentang dunia maju karena dianggap
masyarakatnya merupakan masyarakat yang konsumtif akan berita terlebih mengenai
negaranya sendiri.
C. Analisis
Terjadinya
ketimpangan-ketimpangan isi arus berita internasional dibuktikan dengan
beberapa bukti mendasar, antara lain;
a) Isi
berita tenang Dunia Ketiga adalah jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah
berita tentang dunia maju, padahal proporsi penduduk di dunia ketiga adalah
jauh lebih besar dari proporsisi penduduk di dunia maju
b) Jumlah
berita yang sedikit ini pun cenderung
hanya erisikan berita tentang konflik,
bencana, kerusuhan, singkatnya berita-berita negative dan sensansional.
c) Berita
negative itu cenderung ditempatkan sebagai berdiri sendiri tanpa ditempatkan
sebagai bagian dari sebuah proses, misalnya yang diberitakan hanyalah
meletusnya kerusuhan, tanpa dijelaskan secara mendalam kaitannya dengan
bernbagai konteks sosial-politik-ekonomi-kebudayaan yang menyebabkan kerusuhan
itu terjadi.
d) Cara
pemberitaannya cenderung merefleksikan nilai-nilai Barat, bukan nilai-nilai
setempat
e) Dimensi
pembangunan dunia ketiga sangat diabaikan.
Hingga saat ini fenomena-fenomena
seperti ketidakmerataan informasi, media yang melaksanakan perannya secara
tidak objektif, dan minimnya informasi yang dikeluarkan oleh media massa
membuat proses komunikasi, pemahaman dan pembentukan opini masyarakat menjadi
tidak optimal sebagai menunjukkan implikasi dari adanya ketimpangan arus dan
isi informasi.
Hal ekonomi lah yang penulis rasa
menjadi faktor ketimpangan berita internasional. Ada sejumlah kondisi objektif
yang melatarbelakangi ketimpangan berita Internasional tersebut. Bagi para
kantor berita Barat, berita merupakan sebuah produk yang dihasilkan untuk
dijual, sehingga produk berupa berita tersebut dibuat laku dipasaran untuk
mendatangkan profit yang sebesar-besarnya. Maka itulah dibuat berita yang laku dikalangan
pelanggan utama. Yang dimaksud pelanggan utama adalah masyarakat Negara maju.
Sehingga berita-berita dibuat untuk memenuhi selara masyarakat Barat yang
notabane nya sebagai pelanggan utama dari berita-berita Internasional.
Masyarakat-masyarakat dimanapun lebih menyukai berita tentang Negaranya sendiri
ataupun Negara yang memiliki arti penting. Itu mengapa berita Internasional
dibuat lebih tertuju pada berita negara maju karena mayoritas pelanggan berita
adalah masyarakat Negara maju.
Selain itu, berbagai faktor dan
elemen dapat mempengaruhi pola, proses, dan substansi penyampaian informasi
kepada masyarakat. Faktor-faktor inilah yang kemudian perlu dikaji agar dapat
ditemukan satu benang merah yang menawarkan jawaban untuk dapat mengatasi
persoalan ketimpangan arus dan isi informasi.
Faktor yang pertama adalah adanya
perbedaan ideologi maupun sistem yang digunakan oleh negara-negara di dunia. Hal
ini dikarena sistem atau ideologi negara inilah yang kemudian menentukan
batas-batas fleksibilitas, pola, serta proporsi penyampaian informasi melalui
pers. Jika suatu negara menggunakan prinsip-prinsip demokrasi, negara tersebut
akan memberlakukan kebijakan yang lebih mengutamakan kepada kebebasan pers
untuk mencari informasi dan menyampaikannya dalam bentuk berita kepada
masyarakat. Pemerintahan demokrasi juga menggunakan pers sebagai check and
balance terhadap kinerja pemerintaha dengan memanfaatkan informasi yang
dilaporkan pers melalui sudut pandang pers. Di negara-negara demokratis
cenderung tidak memperlihatkan ketimpangan arus maupun isi informasi.
Lemahnya infrastruktur dan sistem
informasi menyebabkan masyarakat tidak dapat memperoleh informasi tepat waktu.
Mungkin sebagai contoh Indonesia sebagai negara berkembang. Walaupun untuk di
kota-kota besar seperti Jakarta , Bandung, Jogja, dan kota-kota lainnya akses
informasi sangat mudah diperoleh, akan tetapi kenyatan sebaliknya masih terjadi
di wilayah wilayah terpencil atau yang berada sangat jauh jaraknya dari pusat
pemerintahan atau pusat kota. Contoh nyata adalah masyarakat yang tinggal di
daerah perbatasan antara Malaysia dan Kalimantan Barat. Keadaan yang terpencil
minimnya sarana penyedia informasi, membuat masyarakat di daerah ini memiliki
pengetahuan tentang perkembangan dalam negeri yang minim dan ironisnya mereka
bahkan memiliki akses informasi yang jauh lebih mudah tentang keadaan Malaysia
karena media informasi Malaysia sangat mudah diakses di daerah ini.
Selanjutnya, adanya muatan
kepentingan yang menunggangi media massa untuk membentuk opini publik. Memang,
media massa sangat berperan dalam pembentukan opini publik melalui informasi,
spekulasi, dan analisis yan disampaikannya kepada masyarakat. Beberapa media
pers yang ditunggangi oleh kepentingan sang pemilik menyebabkan perbedaan
informasi atau posi pemberitaan yang berbeda pula dengan media pers lainnya.
Ketimpangan berita berimplikasi
pada sejumlah hal antara lain ;
1. Mereka
lebih berorientasi pada kebutuhan media Barat karena media Barat yang menjadi
basis pelanggan utama, para pelanggan media barat lebih banyak memberikan
keuntungan. Media barat lebih kaya dan lbih mampu menjadi pelanggan
dibandingkan Negara berkembang.
2. Untuk
menghemat pembiayaan, kantor berita besar semakin membatasi jumlah koresponden
asing mereka. Masalahnya, biayanya telah menjadi semakin mahal jika menambah
koresponden dari banyak Negara.
3. Keempat
kantor berita harus mengandalkan corak berita yang “laku dibeli”. Sayangnya,
terdapat cukup bukti bahwa apa yang disebut-sebut sebagai “berita pembangunan”,
tidak cukup menarik minat.
4. Para
kantor berita tersebut harus menawarkan sebanyak-banyaknya berita dengan cara
secpat-cepatnya untuk menarik sebanyak-banyaknya pembeli.
BAB III
KESIMPULAN
Ketimpangan isi berita Internasional didasari oleh
presentase berita dari Negera Maju lebih banyak dibandingkan negera berkembang.
Hal ini menjadikan Negara berkembang merasakan ketidakadilan terhadap isi arus
berita internasional. Kasus ini dapat dikaitkan dengan teori dependensi dimana teori ini melihat permasalahan pembangunan dari dunia
ketiga. Menurut Theotonio Dos Santos, dependensi adalah suatu keadaan di mana
kehidupan ekonomi suatu Negara dipengaruhi oleh Negara lain. Teori dependensi
lebih menitikberatkan pada persoalan keterbelakangan dan pembangunan Negara
pinggiran. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa teori dependensi mewakili
“suara Negara-negara pinggiran” untuk menentang hegemoni ekonomi, politik,
budaya dan intelektual dari Negara maju.
Hal yang menyebabkan ketimpangan berita terjadi karena
beberapa faktor dan faktor ekonomi adalah faktor utamanya. Berita diumpamakan
sebagai sebuah produk yang dihasilkan dan akan dijual dengan tujuan mendapatkan
untung yang sebesar-besarnya. Sehingga berita dibuat berdasarkan selera
pelanggannya. Pelanggan utama dari berita Internasional adalah masyarakat dari
Negara Maju sehingga pemberitaan dibuat berdasarkan selera dari masyarakat
Negara Maju
Namun seharusnya, isi berita harus memperhatikan
perkembangan dari Dunia Ketiga sebagai pemberitaannya. Karena Dunia Ketiga juga
memiliki hak untuk diberitakan seperti Negara Maju.
DAFTAR PUSTAKA
Ade
Armando (2007). Komunikasi Internasional. Jakarta: Universitas Terbuka
Mansour Fakih
(2009).Teori Pembangunan dan Globalisasi , Jakarta: INSISTPress
http://blogberii.blogspot.com/2010/12/teori-ketergantungan-dependency.html