Daftar Blog Saya

Senin, 09 Agustus 2021

Aku si Fans Agresif yang Paling Bahagia


Aku si Fans Agresif yang Paling Bahagia

Masih bercerita tentang Fathan, idolaku yang akhirnya merangkap menjadi gebetanku. Ya, kali ini aku mau bercerita tentang momen pertama kali bertemu dengan Fathan yang tak pernah ku duga sebelumnya. Semua itu bisa terwujud dengan keyakinan, keagresifan dan takdir Tuhan

Sampai mendapat sinyal kalau Fathan mengizinkan aku untuk menemuinya, tanpa pikir panjang akupun langsung bertindak. Aku yang saat itu sedang WFH rela menyetop sejenak pekerjaanku dan bersiap untuk menemui idolaku itu di tanggal 24 Maret 2021.

Tak lama untukku bersiap-siap demi bertemu dengan Fathan. Aku hanya menghabiskan waktu kurang lebih 30 menit untuk mandi, salat dzuhur dan make up kilat. Sampai akhirnya sekitar pukul 12.30 aku langsung berangkat dengan sepeda motor berwarna merah menuju The Breeze untuk bertemu idolaku itu.

Setibanya di parkiran The Breeze dan turun dari motor, tiba-tiba langkahku terhenti. Aku berpikir apakah keputusanku salah untuk menemui Fathan. Di satu sisi, aku merasa freak menghampiri idolaku. Tapi, di sisi lain aku berpikir akan menyesel apabila tidak ku lanjutkan rencana pertemuan ini.

Hingga aku melihat Fathan berada di depan gedung arena bowling yang menghadap ke arah parkiran. Dia tidak sendiri, ada teman-teman satu kompetisinya yang saat itu masih bertahan. Aku pun semakin ragu, awkward dan malu-malu.

Langsung ku dm Fathanku itu mengabari bahwa aku sudah berada di parkiran. Aku bilang kalau merasa awkward dan malu lantaran mau bertemu dengannya.

“Eh lu di luar ya? Maluuu gue di parkiran motor wkwkw. Kok gue awkward ya?” kataku pada Fathan melalui dm.

Tak butuh waktu lama, Fathan langsung membalas dmku dan meminta untuk menghampirinya. “Hahahah sini aja,” katanya singkat.

Aku tahu, saat dia membalas dm ku itu dia sambil mengobrol dengan teman-temannya. Akupun memperhatikannya dari jauh. Aku melihat pandangan Fathan tertuju pada ponselnya dan di waktu bersamaan, terlihat di layar hp ku kalau dia sedang mengetik.

Fans yang awkward ini pun kembali meminta Fathan meyakinkanku untuk benar-benar menemuinya. “Eh sumpaaaaaah hahaha rameeeee.” Kataku yang saat itu sedang awkward tak terkira melihat Fathan dari kejauhan.

Ingin menghampirinya namun aku begitu malu. Tapi di sisi lain, keingnan untuk menatap dan berbicara langsung dengannya begitu besar. Meskipun saat itu aku tidak tahu apa yang harus aku bicarakan kepadanya.

“Amaan,” kata Fathan mencoba meyakinkanku.

Aku pun memintanya untuk menoleh kepadaku yang sedang malu-malu itu. Tapi dia tetap memintaku untuk menghampirinya.  Dan aku flash back lagi sekarang, memang Fathan itu terkenal suka nyuruh-nyuruh hahaha.

Mencoba meyakinkan diri, akupun langsung menghampirinya dengan tubuh yang sepenuhnya gemetaran. Sepertinya, di situ aku mulai merasakan rasa yang bukan hanya sekadar rasa ngeafans namun sudah pakai hati.

Akhirnya ku hampiri dia tepat di depannya. Aku pun sempat melewatinya setengah langkah untuk mengetes apakah dia notice denganku dan ternyata tidak. Sampai akhirnya aku sapa idolaku itu duluan.

“Feta kan ya?” kataku memastikan.

“Hana ya?” katanya.

Aku pun mengangguk dan berjabat tangan dengannya. Dia langsung mengajak masuk dan mengambil tempat untuk mengobrol berdua. Di situ perasaanku campur aduk, senang, grogi, bahagia. Perasaan itu seperti jatuh cinta yang terkahir ku rasakan pada 2013 lalu.

Obrolanku dengan Fathan pun sebenarnya tidak jelas. Aku sih yang enggak jelas karena merasa kaget aja. Jadilah di pertemuan pertama kami itu, aku seperti sedang menjalani pekerjaanku sebagai wartawan kanal hiburan.

 Bukan seperti mengobrol, aku dan Fathan justru layaknya sedang melakukan wawancara. Aku tanya, ada keinginan untuk menetap di Jakarta? Perbedaan dua kompetisi yang dijalaninya? Bagaimana persiapannya di malam show? Ah, benar-benar seperti sedang wawancara narasumber tanpa persiapan TOR, ya, tidak terarah.

Di tengah obrolan itu, aku seperti sadar tidak sadar mengucapkan kalimat yang mungkin sebenarnya tidak perlu ku lontarkan saat itu.  Aku bilang ‘Cuma lo Ta, cowok yang gue kejar sebegininiya’ entah lah apa yang aku pikirkan saat itu sampai keluar kalimat tersebut.

Aku juga bilang ke dia, kalau Tuhan cepat sekali mengabulkan doaku. Baru saja semalam aku merengek minta foto dengan Fathan, dan hari ini langsung dikabulkan.

Pertemuan pertama kami tutup dengan foto bareng seperti permintaanku semalam. Ada 4 angle foto yang ku ambil bersama Fathanku itu.  Aku juga minta izin untuk mengunggahnya di Instagram pribadiku dan dia izinkan.

Sampai akhirnya aku minta izin untuk pulang bersamaan dengan Fathan yang juga harus geser ke tempat billiard. Aku pun tak terlalu berharap kalau kita bakal bertemu lagi. Tapi kenginan itu tetap ada di hatiku yang mulai mencintainya.

Ketika tiba di parkiran untuk pulang, aku baru mengecek ponselku lagi. Ternyata, Fathan memfollowback akun Instagramku seperti permintaanku pada 23 Oktober 2017 lalu. Permintaan itu baru dipenuhinya setelah hampir 4 tahun berlalu.

Selain memfollowback aku, Fathan juga mengirimi dm. Dia berterima kasih lantaran aku sudah menemuinya.

“Makasih ya Hana, udah nyamperin, hati-hati ya,” katanya sembari menyisipkan emotikon senyum.

Betapa bahagianya ketika mendapati Fathan memfollowback akun Instagram gue. Gue pun langsung membalas dm nya juga berterimakasih lantaran sudah difollowback.

“My pleasure Fetaaa thankyou juga sudah difolbek. Kalau mau balik ke Lampung sebelumnya kabarin dulu dong,” kataku ngelunjak.

Aku pun kemudian mengunggah foto berdua dengan Fathanku di Insta Stories sembari berpikir keras keterangan apa yang aku sematkan. Aku juga membutuhkan waktu untuk memilih 1 dari 4 foto yang akan ku bagikan pada pengikutku.

Sampai akhirnya aku memutuskan memilih satu foto yang ku lihat tampak lebih lucu dari yang lain. Di situ aku yang memegang kamera dengan tangan kananku sementara tangan kiriku berada di pinggir wajah. Sedangkan dalam foto itu, Fathan tampak memegang pipinya yang chubby.

“Sepanjang obroloan, entah berapa kali gue bilang ‘Ta elu cowok pertama yang gue kejar sampai sebegininya’,” tulisku saat itu di unggahan Insta Stories.

Postingan gue kemudian direpost oleh Fathan di Insta Storiesnya. Dia juga menyertakan keterangan yang kurang lebih berisi ucapan terima kasih sudah menghampirinya dan dia bilang rispek dengan kehadiranku.

Mulai detik itu tampaknya hatiku mulai mengukuhkan bahwa Fathan adalah gebetanku yang akan ku kejar. Entah lah, hati dan otakku berasa tak sinkron. Hatiku sudah memilihnya, namun otakku terasa tak sanggup untuk berpikir demikian.

Bagaimana tidak, Fathan Andhika adalah idolaku yang sudah punya nama. Identitasnya pun sudah terpampang di laman wikipedia. Sedangkan aku? Hahah cantik tidak, terkenal pun tidak dan nihil yang bisa dijadikanku sebagai modal.

Namun, sosok Fathan terus terbayang di pikiranku, di perasaanku, di setiap hariku. Terkadang aku merasa senang apabila dm ku dibalas olehnya. Namun tak jarang juga aku merasa galau ketika merindukannya.

 Ah, memang kadang aku ngga tahu diri memilih pria yang sangat mustahil untuk ku gapai. Status kami bak langit dan bumi dan aku terus berusaha untuk mendoktrin diri ini jika aku hanyalah fans dan Fathan idolaku. Meskipun hatiku kerap menolak doktrin itu dan terus bersikeras memikirkan sosok idola yang naik pangkat jadi gebetanku itu.

Semenjak saat itu, aku semakin rajin membalas Insta Stories Fathan. Aku seakan ingin menunjukkan bahwa aku selalu ada untuknya. Aku ingin terlihat menjadi garda terdepan untuk mendukung setiap langkahnya.

Fathan pun tak jarang membalas dm yang ku kirim meski hanya sekenanya. Dia hanya mengucapkan terima kasih ketika ku puji dan menjawab apa yang ku tanyakan tanpa ada ucapan lain.

Sempat di satu titik aku merasa, sepertinya aku begitu halu menjadikan Fathan sebagai gebetanku. Hingga akhirnya aku mulai berusaha berpikir realitstis namun hatiku tetap saja menyuruh untuk berpikir tentang Fathan.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar