Aku si Fans Agresif
yang Paling Bahagia
Masih bercerita tentang Fathan, idolaku yang akhirnya
merangkap menjadi gebetanku. Ya, kali ini aku mau bercerita tentang momen
pertama kali bertemu dengan Fathan yang tak pernah ku duga sebelumnya. Semua
itu bisa terwujud dengan keyakinan, keagresifan dan takdir Tuhan
Sampai mendapat sinyal kalau Fathan
mengizinkan aku untuk menemuinya, tanpa pikir panjang akupun langsung
bertindak. Aku yang saat itu sedang WFH rela menyetop sejenak pekerjaanku dan
bersiap untuk menemui idolaku itu di tanggal 24 Maret 2021.
Tak lama untukku bersiap-siap
demi bertemu dengan Fathan. Aku hanya menghabiskan waktu kurang lebih 30 menit
untuk mandi, salat dzuhur dan make up kilat. Sampai akhirnya sekitar pukul
12.30 aku langsung berangkat dengan sepeda motor berwarna merah menuju The
Breeze untuk bertemu idolaku itu.
Setibanya di parkiran The Breeze
dan turun dari motor, tiba-tiba langkahku terhenti. Aku berpikir apakah
keputusanku salah untuk menemui Fathan. Di satu sisi, aku merasa freak
menghampiri idolaku. Tapi, di sisi lain aku berpikir akan menyesel apabila
tidak ku lanjutkan rencana pertemuan ini.
Hingga aku melihat Fathan berada
di depan gedung arena bowling yang menghadap ke arah parkiran. Dia tidak
sendiri, ada teman-teman satu kompetisinya yang saat itu masih bertahan. Aku
pun semakin ragu, awkward dan malu-malu.
Langsung ku dm Fathanku itu
mengabari bahwa aku sudah berada di parkiran. Aku bilang kalau merasa awkward
dan malu lantaran mau bertemu dengannya.
“Eh lu di luar ya? Maluuu gue di
parkiran motor wkwkw. Kok gue awkward ya?” kataku pada Fathan melalui dm.
Tak butuh waktu lama, Fathan
langsung membalas dmku dan meminta untuk menghampirinya. “Hahahah sini aja,”
katanya singkat.
Aku tahu, saat dia membalas dm ku
itu dia sambil mengobrol dengan teman-temannya. Akupun memperhatikannya dari
jauh. Aku melihat pandangan Fathan tertuju pada ponselnya dan di waktu
bersamaan, terlihat di layar hp ku kalau dia sedang mengetik.
Fans yang awkward ini pun kembali
meminta Fathan meyakinkanku untuk benar-benar menemuinya. “Eh sumpaaaaaah
hahaha rameeeee.” Kataku yang saat itu sedang awkward tak terkira melihat Fathan
dari kejauhan.
Ingin menghampirinya namun aku
begitu malu. Tapi di sisi lain, keingnan untuk menatap dan berbicara langsung
dengannya begitu besar. Meskipun saat itu aku tidak tahu apa yang harus aku
bicarakan kepadanya.
“Amaan,” kata Fathan mencoba
meyakinkanku.
Aku pun memintanya untuk menoleh
kepadaku yang sedang malu-malu itu. Tapi dia tetap memintaku untuk
menghampirinya. Dan aku flash back lagi
sekarang, memang Fathan itu terkenal suka nyuruh-nyuruh hahaha.
Mencoba meyakinkan diri, akupun
langsung menghampirinya dengan tubuh yang sepenuhnya gemetaran. Sepertinya, di
situ aku mulai merasakan rasa yang bukan hanya sekadar rasa ngeafans namun sudah
pakai hati.
Akhirnya ku hampiri dia tepat di
depannya. Aku pun sempat melewatinya setengah langkah untuk mengetes apakah dia
notice denganku dan ternyata tidak. Sampai akhirnya aku sapa idolaku itu
duluan.
“Feta kan ya?” kataku memastikan.
“Hana ya?” katanya.
Aku pun mengangguk dan berjabat
tangan dengannya. Dia langsung mengajak masuk dan mengambil tempat untuk
mengobrol berdua. Di situ perasaanku campur aduk, senang, grogi, bahagia.
Perasaan itu seperti jatuh cinta yang terkahir ku rasakan pada 2013 lalu.
Obrolanku dengan Fathan pun
sebenarnya tidak jelas. Aku sih yang enggak jelas karena merasa kaget aja.
Jadilah di pertemuan pertama kami itu, aku seperti sedang menjalani pekerjaanku
sebagai wartawan kanal hiburan.
Bukan seperti mengobrol, aku dan Fathan justru
layaknya sedang melakukan wawancara. Aku tanya, ada keinginan untuk menetap di
Jakarta? Perbedaan dua kompetisi yang dijalaninya? Bagaimana persiapannya di
malam show? Ah, benar-benar seperti sedang wawancara narasumber tanpa persiapan
TOR, ya, tidak terarah.
Di tengah obrolan itu, aku
seperti sadar tidak sadar mengucapkan kalimat yang mungkin sebenarnya tidak
perlu ku lontarkan saat itu. Aku bilang
‘Cuma lo Ta, cowok yang gue kejar sebegininiya’ entah lah apa yang aku pikirkan
saat itu sampai keluar kalimat tersebut.
Aku juga bilang ke dia, kalau
Tuhan cepat sekali mengabulkan doaku. Baru saja semalam aku merengek minta foto
dengan Fathan, dan hari ini langsung dikabulkan.
Pertemuan pertama kami tutup
dengan foto bareng seperti permintaanku semalam. Ada 4 angle foto yang ku ambil
bersama Fathanku itu. Aku juga minta
izin untuk mengunggahnya di Instagram pribadiku dan dia izinkan.
Sampai akhirnya aku minta izin
untuk pulang bersamaan dengan Fathan yang juga harus geser ke tempat billiard.
Aku pun tak terlalu berharap kalau kita bakal bertemu lagi. Tapi kenginan itu
tetap ada di hatiku yang mulai mencintainya.
Ketika tiba di parkiran untuk
pulang, aku baru mengecek ponselku lagi. Ternyata, Fathan memfollowback akun
Instagramku seperti permintaanku pada 23 Oktober 2017 lalu. Permintaan itu baru
dipenuhinya setelah hampir 4 tahun berlalu.
Selain memfollowback aku, Fathan
juga mengirimi dm. Dia berterima kasih lantaran aku sudah menemuinya.
“Makasih ya Hana, udah nyamperin,
hati-hati ya,” katanya sembari menyisipkan emotikon senyum.
Betapa bahagianya ketika
mendapati Fathan memfollowback akun Instagram gue. Gue pun langsung membalas dm
nya juga berterimakasih lantaran sudah difollowback.
“My pleasure Fetaaa thankyou juga
sudah difolbek. Kalau mau balik ke Lampung sebelumnya kabarin dulu dong,”
kataku ngelunjak.
Aku pun kemudian mengunggah foto
berdua dengan Fathanku di Insta Stories sembari berpikir keras keterangan apa
yang aku sematkan. Aku juga membutuhkan waktu untuk memilih 1 dari 4 foto yang
akan ku bagikan pada pengikutku.
Sampai akhirnya aku memutuskan
memilih satu foto yang ku lihat tampak lebih lucu dari yang lain. Di situ aku
yang memegang kamera dengan tangan kananku sementara tangan kiriku berada di
pinggir wajah. Sedangkan dalam foto itu, Fathan tampak memegang pipinya yang
chubby.
“Sepanjang obroloan, entah berapa
kali gue bilang ‘Ta elu cowok pertama yang gue kejar sampai sebegininya’,”
tulisku saat itu di unggahan Insta Stories.
Postingan gue kemudian direpost
oleh Fathan di Insta Storiesnya. Dia juga menyertakan keterangan yang kurang
lebih berisi ucapan terima kasih sudah menghampirinya dan dia bilang rispek
dengan kehadiranku.
Mulai detik itu tampaknya hatiku
mulai mengukuhkan bahwa Fathan adalah gebetanku yang akan ku kejar. Entah lah,
hati dan otakku berasa tak sinkron. Hatiku sudah memilihnya, namun otakku
terasa tak sanggup untuk berpikir demikian.
Bagaimana tidak, Fathan Andhika
adalah idolaku yang sudah punya nama. Identitasnya pun sudah terpampang di
laman wikipedia. Sedangkan aku? Hahah cantik tidak, terkenal pun tidak dan
nihil yang bisa dijadikanku sebagai modal.
Namun, sosok Fathan terus
terbayang di pikiranku, di perasaanku, di setiap hariku. Terkadang aku merasa
senang apabila dm ku dibalas olehnya. Namun tak jarang juga aku merasa galau
ketika merindukannya.
Ah, memang kadang aku ngga tahu diri memilih
pria yang sangat mustahil untuk ku gapai. Status kami bak langit dan bumi dan
aku terus berusaha untuk mendoktrin diri ini jika aku hanyalah fans dan Fathan
idolaku. Meskipun hatiku kerap menolak doktrin itu dan terus bersikeras
memikirkan sosok idola yang naik pangkat jadi gebetanku itu.
Semenjak saat itu, aku semakin
rajin membalas Insta Stories Fathan. Aku seakan ingin menunjukkan bahwa aku
selalu ada untuknya. Aku ingin terlihat menjadi garda terdepan untuk mendukung
setiap langkahnya.
Fathan pun tak jarang membalas dm
yang ku kirim meski hanya sekenanya. Dia hanya mengucapkan terima kasih ketika
ku puji dan menjawab apa yang ku tanyakan tanpa ada ucapan lain.
Sempat di satu titik aku merasa,
sepertinya aku begitu halu menjadikan Fathan sebagai gebetanku. Hingga akhirnya
aku mulai berusaha berpikir realitstis namun hatiku tetap saja menyuruh untuk
berpikir tentang Fathan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar