Tertampar Sampai Kena
Mental
Aku
tahu, Fathan kembali lagi ke Ibukota setelah sekitar 2-3 pekan berlebaran di
tanah kelahirannya. Keberadaan Fathan aku lihat lewat Insta Storiesnya ketika
mengunggah foto di bandara hingga video dijemput dua orang temannya setiba di
Jakarta.
Rasanya
ingin sekali bertemu tapi tak memiliki alasan jelas. Akhirnya aku pun mencoba
menghubunginya lewat dm Instagram. Aku memastikan dia benar di Jakarta dan dia
bilang baru sampai.
Fans
tak tahu diri ini langsung menodong sang idola untuk meetup. Fathan sepertinya
tipe orang yang tak enakan untuk menolak ajakan. Padahal, aku tahu kalau
ucapannya hanya basa-basi agar aku diam juga.
“Ayo main Taaaa,” kataku di
tanggal 21 Mei 2021.
Dia pun mengiyakan namun tak
menyebutkan kapan waktu pasti bisa bertemu denganku. “Oke kalau udah santai
ya,” katanya dengan menyisipkan emotikon nyengir.
Aku yang sudah trauma pernah jadi
korban PHP di masa lalu ini pun langsung menegaskan bahwa dia tak hanya
membual. Ya, aku butuh jawaban tegas meskipun terkesan aku sebagai fans tak
tahu diri.
“Beneran yak wkwkwk.. Gimana
caranya gue tau lu udah santai?” tanyaku.
Dia bilang akan mengabari ketika
sudah tak sibuk. “Nanti dikasih tahu Hanaaa wkwkw,” katanya.
Aku yakin, ada rasa jengkel pasti
di hatinya menghadapi aku yang sok kenal sok dekat dan terkesan memaksa untuk
bertemu. Ya, aku sadari itu hatiku yang menyuruh. Hati ini yang terpikat padamu
walaupun kami beda kasta.
Singkat cerita, aku menemukan
sebuah unggahan di sosial media tentang show standup comedy salah satu komika
asal Tangerang Selatan. Jujur, aku hanya tahu dia tapi tidak begitu mengikuti.
Tapi, ada yang membuat
perhatianku langsung tertuju pada flyer show tersebut. Ya, Fathan menjadi
komika pembuka dalam show yang bakal di gelar pada 27 Juni 2021 itu. Aku yang
sudah kepalang rindu pada Fathan pun tak membutuhkan waktu berpikir. Langsung
ku hubungi contact person pemesanan tiket tersebut.
Akupun lantas membeli satu tiket
untukku sendiri. Entahlah, aku bingung mau mengajak siapa karena sulit
menemukan teman di sekelilingku yang rela mengeluarkan uang untuk menonton
pertunjukkan stand up comedy.
Sebutlah si contact person itu
bernama Rizal yang lantas ku panggil dengan sebutan ‘kak’ biar gue sok imut aja
gitu wkwk. Aku pun sudah notice Rizal bahwa tujuanku sebenarnya untuk nonton Fathan,
bukan sang bintang dalam penampilan tersebut.
Secara tidak langsung, aku sudah
memberikan tanda bahwa aku menyukai Fathan. Semua candaanku dengan Rizal tak
henti-hentinya menyebut nama Fathan. Sampai aku bilang mau duduk yang bisa
sandaran dengan Fathan.
Akhirnya, sekitar satu minggu
kemudian aku berhasil mengajak salah satu temanku untuk ikut membeli tiket
stand up comedy tersebut. Aku langsung menghubungi Rizal untuk beli satu tiket
lagi.
Kemudian, aku dan Rizal pun
saling berbalas pesan di whatsapp hingga di luar keperluan membeli tiket. Rizal
mengajakku untuk datang ke tempat open mic para komika Tangsel. Pikirku, aku
ngga punya alasan untuk menolak, ya hitung-hitung melepas penat setelah bekerja
seharian.
Aku ingat, itu malam minggu
tanggal 19 Juni 2021 dalam kondisi badanku yang sebenarnya tidak terlalu fit.
Saat itu, aku merasa agak pusing seperti akan terserang flu. Tapi, karena sudah
berjanji sebelumnya, aku tetap berangkat.
Rizal menjemputku di dekat SMA
yang menjadi almamaterku. Sekitar 10 menit aku menunggu dan akhirnya dia
datang. Alasanku tak ingin dijemput di rumah karena privacy dengan orang yang
baru dikenal.
Di jalan kami biasa saja,
mengobrol hingga suara terbawa angin tak terdengar. Aku lupa apa di jalan itu
aku membicarakan Fathan dengannya atau tidak. Tujuanku membicarakan Fathan,
agar dia tak terlalu berharap denganku. Aku merasa kalau dia lagi melakukan
PDKT denganku.
Tiba di salah satu kafe di
BSD yang menjadi lokasi open mic para
komika Tangsel. Setelah memesan kopi, aku pun ke atas tempat para komika
mengetes materinya di hadapan penonton. Saat itu, Rizal terlihat sibuk mengurus
acara tersebut. Sementara aku mengambil posisi duduk di belakang sembari
menikmati es kopi susu yang ku pesan.
Aku pun mulai menonton beberapa
komika yang mengetes materinya. Sampai di tengah acara, aku merasa kebelet dan
bergegas ke toilet. Ketika aku di toilet, Rizal rupanya menanyakan keberadaanku
melalui whatsapp.
Tak lama aku langsung kembali ke atas
setelah selesai dari toilet. Aku berpindah duduk karena tempatku sebelumnya
sudah ditempati orang lain. Rizal kemudian menghampiriku dan mengajakku
mengobrol.
Rizal juga bilang kalau ada Fathan
di acara ini. Wah, moodku langsung naik jutaan kali lipat waktu tahu kalau ada
idola yang sudah naik pangkat jadi gebetanku itu di tempat yang sama. Aku pun
langsung berusaha mencari di mana Fathan, tapi tetap aku tak bisa melihatnya.
Aku dapat merasakan keberadaan Fathan
ketika dia naik untuk open mic mengetes beberapa materi stand upnya. Aku begitu
terhibur dengan materinya dan pastinya aku sangat-sangat bahagia bisa berada di
tempat yang sama dengannya.
Tak henti-hentinya, ketika Fathan
berada di atas panggung, aku dalam hati melantunkan shalawat Nabi. Setahuku, ketika
kita menginginkan sesuatu dan melantunkan shalawat Nabi, niscaya apa yang kita
inginkan bakal dengan mudah menjadi milik.
Setelah Fathan turun panggung,
akupun bisa melihat dia dengan lebih jelas. Aku ingat dia berdiri di dekat
tangga sembari mengobrol dengan salah satu komika. Tak berhenti ku perhatikan
dia sembari terus melantunkan shalawat nabi. Hihihi.. aku ngga tahu itu benar
atau salah, tapi hatiku terus menuntun untuk melakukan hal tersebut.
Open mic selesai, Rizal
mengajakku untuk nongkrong bareng komika Tangsel di salah satu angkringan yang berada di Ciater.
Ketika masih berada di kafe, aku pun mencoba untuk lewat-lewat di hadapan Fathan.
Aku hanya mengetes, apakah Fathan masih ingat dengan rupaku yang pernah dia
lihat dua bulan lalu.
Ah.. ternyata Fathan sudah tak
hafal dan tak ada tanda-tanda dia mengenalku. Aku pun langsung mengirim dm
kepadanya untuk mengabarkan bahwa aku ada di dekatnya.
“Ta, lo di Diorama Kafe ya?”
tanya ku basa-basi melalui dm Instagram.
“Wkwk iya Hana,” jawabnya.
“Et gue di belakang elu ini,”
kataku lagi yang tak dibalas oleh Fathan.
Dari kafe menuju angkringan,
posisi motor Fathan tepat berada di depanku dan Rizal. Fathan saat itu
dibonceng oleh temannya. Aku pun tak berhenti terus melantunkan shalawat nabi
dalam hati sembari meladeni obrolan Rizal.
Ingin rasanya aku berada di motor
yang sama dengan Fathan. Ah tapi itu tak mungkin, mengingat wajahku saja Fathan
tak mampu apalagi bisa mengajakku untuk satu motor dengannya. Tapi, dengan
berada di tempat yang sama dengan dia saja pun sudah menjadi anugerah untukku.
Tiba di angkringan, aku pun
langsung mengambil posisi duduk tepat di hadapan Fathan. Rupanya keberuntungan
sedang berada di pihakku. Fathan pun melihatku dan menyapa berbarengan dengan
aku yang memanggilnya juga.
“Hanaaa,” katanya.
‘Oh Tuhan, ini aku lagi mimpi
ngga sih’, ucapku dalam hati sembari memandang makhluk Tuhan yang indah ini.
Aku ingat, makanan pesanan Fathan malam itu. Dia makan pecel lele, nasi dan
juga sepotong tempe.
Aku sendiri hanya minum air
mineral lantaran sudah makan sebelum pergi ke tempat open mic. Fathan pun
menanyakan ‘lo nggak makan Na?’ tanyanya. Aku pun menjawab tidak dengan alasan
takut berat badanku naik hahahaa.. Mungkin harusnya aku tak menjawab itu karena
terkesan begitu drama. Lebih baik jika
aku beralasan takut susah bangun pagi kalau makan malam.
Di momen itu, aku dan Fathan
banyak berbincang terlebih mengenai rekomendasi penginapan di Lampung. Ya, aku
berencana ke Lampung untuk hadir di special show Fathan dan dia tahu itu.
Lumayan tek-tok aku mengobrol
dengan Fathan dan aku sudah tak terlalu awkward seperti pertama ketemu. Fathan
pun memberikan beberapa rekomendasi penginapan yang bagus di Lampung.
Sebenarnya itu hanya basa-basiku saja karena aku sudah membooking penginapan
selama di Lampung.
Aku lupa bagaimana mulanya hingga
percakapan kami, aku, Fathan dan salah satu komika berbicara soal perempuan
menjaga diri. Sampai aku mengeluarkan statement ku sebagai seorang perempuan
satu-satunya di sana.
“Kalau buat gue, yang bisa jaga
diri gue sepenuhnya ya diri gue sendiri. Gue pun ngga bisa melarang orang untuk
nggak berbuat tak baik pada gue,” kataku saat itu.
Di momen itu pula, aku tahu kalau
Fathan baru putus dengan kekasihnya. Fathan bilang kalau dia lagi-lagi
ditinggal taaruf oleh kekasihnya yang berada di kota asalnya itu. Sampai
akhirnya ku beranikan tanya soal alasan mereka putus.
“Gara-gara lo tinggalin ke sini
Ta?” tanyaku.
Fathan bilang bukan itu
alasannya. Menurutnya sang mantan meninggalkannya lantaran Fathan belum siap
menikah. Di situ aku langsung kasih sedikit saran untuk Fathan.
“Kalau gitu, lo carinya yang
lebih muda dari lo Ta,” saranku pada Fathan.
Tapi Fathan justru mengelak, dia
rupanya lebih suka dengan wanita yang lebih tua. Dia bilang mantannya pun
setahun lebih tua darinya. Dia kurang suka berpacaran dengan wanita yang lebih
muda lantaran umumnya masih mencari jati diri.
“Kalau sama yang mudaan, jam
segini biasanya masih di luar. Kalau yang udah seumur gue kan pasti sudah
malas-malas keluar malam kan,” jawabnya.
Wah, gue seperti tertampar
bolak-balik sih dengarnya. Pertama, karena Fathan lebih suka wanita lebih tua
sementara usia gue dua tahun di bawah Fathan. Kedua soal omongan Fathan ‘jam
segini biasanya masih di luar’ dan itupun gue lagi di luar, berhadapan dengan Fathan.
Ingin rasanya gue langsung pulang
buat nunjukkin pada Fathan kalau gue ngga suka keluar malam. Ah tapi, gue kayak
sudah tertangkap basah dan terjebak pada situasi yang salah. Ingin pulang tapi
masih ingin menghabiskan waktu dengan Fathan. Ingin tetap di situ tapi sindiran
Fathan kena mental gue banget.
Perbincangan gue dengan Fathan
begitu menyenangkan untuk gue pribadi. Gue sudah nggak segrogi saat awal
bertemu di The Breeze 24 Maret lalu. Obrolan kita pun cukup nyambung sampai aku
menghiraukan Rizal yang duduk tepat di sebelahku.
Jam di hp gue menunjukkan pukul
00.30 WIB dan gue benar-benar mau pulang. Awalnya gue ngide untuk pulang
sendiri pakai ojek online karena nggak mau ngerepotin orang. Sekaligus ingin
menunjukkan pada Fathan kalau gue ngga ada hubungan apa-apa sama Rizal.
Tapi Rizal terus membujuk gue
untuk anterin pulang. Menghindari konflik, akhirnya gue mau dianterin Rizal
pulang sampai depan komplek sesuai permintaan gue juga. Di jalan, gue mencoba
terus nge-cut Rizal dengan mengungkapkan betapa suka dan tertariknya gue pada Fathan.
Rizal terlihat tidak nyaman
dengan obrolan gue itu. Tapi, itu cara gue buat nge-cut dia agar ngga terlalu
berharap untuk mendekati gue karena gue pun sedang mengusahakan Fathan.
Walaupun gue tahu itu sulit buat terealisasikan. Setidaknya, mengagumi,
menyukai dan mencintai Fathan dalam diam sudah memberikan kebahagiaan untukku.
Setibanya di rumah, aku masih
belum bisa berhenti memikirkan Fathan. Ingin rasanya aku lebih lama berada di
hadapannya untuk berbagi obrolan. Hatiku tak kuat untuk menahan rasa galau yang
menghampiri itu. Sebelum tidur, ku ambil ponselku dan membuka profil Instagram Fathan.
Aku tak bisa menahan hasrat untuk
mengirim dm pada Fathan. Saat itu, aku hanya ingin terus berbincang dengannya.
Sebenarnya aku ngga tahu harus mengirim pesan apa padanya. Hingga akhirnya, aku
hanya bilang terima kasih untuk apa yang sebenarnya aku tak tahu alasannya.
“Taaa, thankyou yak,” kataku di tanggal 20
Juni 2021.
Nggak lama, Fathan membalas dm ku
yang selanjutnya akupun tak tahu harus membalas apa lagi. Dia menanyakan
alasanku mengucapkan terima kasih.
“Thanks buat apa hanaa,”
tanyanya.
Satu malam ku diamkan dm Fathan
sembari aku cari balasan yang tepat untuk menjawabnya. Dalam tidurku, akupun
terus berpikir balasan apa yang harus ku ketik untuk Fathan. Sementara aku
sendiri tak tahu aku berterima kasih untuk apa.
Keesokan paginya, akupun baru
menjawab dm Fathan. Aku bilang terima kasih untuk ngobrol-ngobrolnya. Ya, cuma
itu alasan yang kupunya untuk menjawab pertanyaannya.
Sementara, akupun tak berhenti
berterimakasih pada Tuhan atas kesempatan yang diberikan untuk kembali bertemu
dan ngobrol bareng dengan idola yang sudah naik tahta menjadi gebetanku itu.