Daftar Blog Saya

Senin, 09 Agustus 2021

Tertampar Sampai Kena Mental


Tertampar Sampai Kena Mental

 

                Aku tahu, Fathan kembali lagi ke Ibukota setelah sekitar 2-3 pekan berlebaran di tanah kelahirannya. Keberadaan Fathan aku lihat lewat Insta Storiesnya ketika mengunggah foto di bandara hingga video dijemput dua orang temannya setiba di Jakarta.

                Rasanya ingin sekali bertemu tapi tak memiliki alasan jelas. Akhirnya aku pun mencoba menghubunginya lewat dm Instagram. Aku memastikan dia benar di Jakarta dan dia bilang baru sampai.

                Fans tak tahu diri ini langsung menodong sang idola untuk meetup. Fathan sepertinya tipe orang yang tak enakan untuk menolak ajakan. Padahal, aku tahu kalau ucapannya hanya basa-basi agar aku diam juga.

“Ayo main Taaaa,” kataku di tanggal 21 Mei 2021.

Dia pun mengiyakan namun tak menyebutkan kapan waktu pasti bisa bertemu denganku. “Oke kalau udah santai ya,” katanya dengan menyisipkan emotikon nyengir.

Aku yang sudah trauma pernah jadi korban PHP di masa lalu ini pun langsung menegaskan bahwa dia tak hanya membual. Ya, aku butuh jawaban tegas meskipun terkesan aku sebagai fans tak tahu diri.

“Beneran yak wkwkwk.. Gimana caranya gue tau lu udah santai?” tanyaku.

Dia bilang akan mengabari ketika sudah tak sibuk. “Nanti dikasih tahu Hanaaa wkwkw,” katanya.

Aku yakin, ada rasa jengkel pasti di hatinya menghadapi aku yang sok kenal sok dekat dan terkesan memaksa untuk bertemu. Ya, aku sadari itu hatiku yang menyuruh. Hati ini yang terpikat padamu walaupun kami beda kasta.

Singkat cerita, aku menemukan sebuah unggahan di sosial media tentang show standup comedy salah satu komika asal Tangerang Selatan. Jujur, aku hanya tahu dia tapi tidak begitu mengikuti.

Tapi, ada yang membuat perhatianku langsung tertuju pada flyer show tersebut. Ya, Fathan menjadi komika pembuka dalam show yang bakal di gelar pada 27 Juni 2021 itu. Aku yang sudah kepalang rindu pada Fathan pun tak membutuhkan waktu berpikir. Langsung ku hubungi contact person pemesanan tiket tersebut.

Akupun lantas membeli satu tiket untukku sendiri. Entahlah, aku bingung mau mengajak siapa karena sulit menemukan teman di sekelilingku yang rela mengeluarkan uang untuk menonton pertunjukkan stand up comedy.

Sebutlah si contact person itu bernama Rizal yang lantas ku panggil dengan sebutan ‘kak’ biar gue sok imut aja gitu wkwk. Aku pun sudah notice Rizal bahwa tujuanku sebenarnya untuk nonton Fathan, bukan sang bintang dalam penampilan tersebut.

Secara tidak langsung, aku sudah memberikan tanda bahwa aku menyukai Fathan. Semua candaanku dengan Rizal tak henti-hentinya menyebut nama Fathan. Sampai aku bilang mau duduk yang bisa sandaran dengan Fathan.

Akhirnya, sekitar satu minggu kemudian aku berhasil mengajak salah satu temanku untuk ikut membeli tiket stand up comedy tersebut. Aku langsung menghubungi Rizal untuk beli satu tiket lagi.

Kemudian, aku dan Rizal pun saling berbalas pesan di whatsapp hingga di luar keperluan membeli tiket. Rizal mengajakku untuk datang ke tempat open mic para komika Tangsel. Pikirku, aku ngga punya alasan untuk menolak, ya hitung-hitung melepas penat setelah bekerja seharian.

Aku ingat, itu malam minggu tanggal 19 Juni 2021 dalam kondisi badanku yang sebenarnya tidak terlalu fit. Saat itu, aku merasa agak pusing seperti akan terserang flu. Tapi, karena sudah berjanji sebelumnya, aku tetap berangkat.

Rizal menjemputku di dekat SMA yang menjadi almamaterku. Sekitar 10 menit aku menunggu dan akhirnya dia datang. Alasanku tak ingin dijemput di rumah karena privacy dengan orang yang baru dikenal.

Di jalan kami biasa saja, mengobrol hingga suara terbawa angin tak terdengar. Aku lupa apa di jalan itu aku membicarakan Fathan dengannya atau tidak. Tujuanku membicarakan Fathan, agar dia tak terlalu berharap denganku. Aku merasa kalau dia lagi melakukan PDKT denganku.

Tiba di salah satu kafe di BSD  yang menjadi lokasi open mic para komika Tangsel. Setelah memesan kopi, aku pun ke atas tempat para komika mengetes materinya di hadapan penonton. Saat itu, Rizal terlihat sibuk mengurus acara tersebut. Sementara aku mengambil posisi duduk di belakang sembari menikmati es kopi susu yang ku pesan.

Aku pun mulai menonton beberapa komika yang mengetes materinya. Sampai di tengah acara, aku merasa kebelet dan bergegas ke toilet. Ketika aku di toilet, Rizal rupanya menanyakan keberadaanku melalui whatsapp.

Tak lama aku langsung kembali ke atas setelah selesai dari toilet. Aku berpindah duduk karena tempatku sebelumnya sudah ditempati orang lain. Rizal kemudian menghampiriku dan mengajakku mengobrol.

Rizal juga bilang kalau ada Fathan di acara ini. Wah, moodku langsung naik jutaan kali lipat waktu tahu kalau ada idola yang sudah naik pangkat jadi gebetanku itu di tempat yang sama. Aku pun langsung berusaha mencari di mana Fathan, tapi tetap aku tak bisa melihatnya.

Aku dapat merasakan keberadaan Fathan ketika dia naik untuk open mic mengetes beberapa materi stand upnya. Aku begitu terhibur dengan materinya dan pastinya aku sangat-sangat bahagia bisa berada di tempat yang sama dengannya.

Tak henti-hentinya, ketika Fathan berada di atas panggung, aku dalam hati melantunkan shalawat Nabi. Setahuku, ketika kita menginginkan sesuatu dan melantunkan shalawat Nabi, niscaya apa yang kita inginkan bakal dengan mudah menjadi milik.

Setelah Fathan turun panggung, akupun bisa melihat dia dengan lebih jelas. Aku ingat dia berdiri di dekat tangga sembari mengobrol dengan salah satu komika. Tak berhenti ku perhatikan dia sembari terus melantunkan shalawat nabi. Hihihi.. aku ngga tahu itu benar atau salah, tapi hatiku terus menuntun untuk melakukan hal tersebut.

Open mic selesai, Rizal mengajakku untuk nongkrong bareng komika Tangsel  di salah satu angkringan yang berada di Ciater. Ketika masih berada di kafe, aku pun mencoba untuk lewat-lewat di hadapan Fathan. Aku hanya mengetes, apakah Fathan masih ingat dengan rupaku yang pernah dia lihat dua bulan lalu.

Ah.. ternyata Fathan sudah tak hafal dan tak ada tanda-tanda dia mengenalku. Aku pun langsung mengirim dm kepadanya untuk mengabarkan bahwa aku ada di dekatnya.

“Ta, lo di Diorama Kafe ya?” tanya ku basa-basi melalui dm Instagram.

“Wkwk iya Hana,” jawabnya.

“Et gue di belakang elu ini,” kataku lagi yang tak dibalas oleh Fathan.

Dari kafe menuju angkringan, posisi motor Fathan tepat berada di depanku dan Rizal. Fathan saat itu dibonceng oleh temannya. Aku pun tak berhenti terus melantunkan shalawat nabi dalam hati sembari meladeni obrolan Rizal.

Ingin rasanya aku berada di motor yang sama dengan Fathan. Ah tapi itu tak mungkin, mengingat wajahku saja Fathan tak mampu apalagi bisa mengajakku untuk satu motor dengannya. Tapi, dengan berada di tempat yang sama dengan dia saja pun sudah menjadi anugerah untukku.

Tiba di angkringan, aku pun langsung mengambil posisi duduk tepat di hadapan Fathan. Rupanya keberuntungan sedang berada di pihakku. Fathan pun melihatku dan menyapa berbarengan dengan aku yang memanggilnya juga.

“Hanaaa,” katanya.

‘Oh Tuhan, ini aku lagi mimpi ngga sih’, ucapku dalam hati sembari memandang makhluk Tuhan yang indah ini. Aku ingat, makanan pesanan Fathan malam itu. Dia makan pecel lele, nasi dan juga sepotong tempe.

Aku sendiri hanya minum air mineral lantaran sudah makan sebelum pergi ke tempat open mic. Fathan pun menanyakan ‘lo nggak makan Na?’ tanyanya. Aku pun menjawab tidak dengan alasan takut berat badanku naik hahahaa.. Mungkin harusnya aku tak menjawab itu karena terkesan begitu drama.  Lebih baik jika aku beralasan takut susah bangun pagi kalau makan malam.

Di momen itu, aku dan Fathan banyak berbincang terlebih mengenai rekomendasi penginapan di Lampung. Ya, aku berencana ke Lampung untuk hadir di special show Fathan dan dia tahu itu.

Lumayan tek-tok aku mengobrol dengan Fathan dan aku sudah tak terlalu awkward seperti pertama ketemu. Fathan pun memberikan beberapa rekomendasi penginapan yang bagus di Lampung. Sebenarnya itu hanya basa-basiku saja karena aku sudah membooking penginapan selama di Lampung.

Aku lupa bagaimana mulanya hingga percakapan kami, aku, Fathan dan salah satu komika berbicara soal perempuan menjaga diri. Sampai aku mengeluarkan statement ku sebagai seorang perempuan satu-satunya di sana.

“Kalau buat gue, yang bisa jaga diri gue sepenuhnya ya diri gue sendiri. Gue pun ngga bisa melarang orang untuk nggak berbuat tak baik pada gue,” kataku saat itu.

Di momen itu pula, aku tahu kalau Fathan baru putus dengan kekasihnya. Fathan bilang kalau dia lagi-lagi ditinggal taaruf oleh kekasihnya yang berada di kota asalnya itu. Sampai akhirnya ku beranikan tanya soal alasan mereka putus.

“Gara-gara lo tinggalin ke sini Ta?” tanyaku.

Fathan bilang bukan itu alasannya. Menurutnya sang mantan meninggalkannya lantaran Fathan belum siap menikah. Di situ aku langsung kasih sedikit saran untuk Fathan.

“Kalau gitu, lo carinya yang lebih muda dari lo Ta,” saranku pada Fathan.

Tapi Fathan justru mengelak, dia rupanya lebih suka dengan wanita yang lebih tua. Dia bilang mantannya pun setahun lebih tua darinya. Dia kurang suka berpacaran dengan wanita yang lebih muda lantaran umumnya masih mencari jati diri.

“Kalau sama yang mudaan, jam segini biasanya masih di luar. Kalau yang udah seumur gue kan pasti sudah malas-malas keluar malam kan,” jawabnya.

Wah, gue seperti tertampar bolak-balik sih dengarnya. Pertama, karena Fathan lebih suka wanita lebih tua sementara usia gue dua tahun di bawah Fathan. Kedua soal omongan Fathan ‘jam segini biasanya masih di luar’ dan itupun gue lagi di luar, berhadapan dengan Fathan.

Ingin rasanya gue langsung pulang buat nunjukkin pada Fathan kalau gue ngga suka keluar malam. Ah tapi, gue kayak sudah tertangkap basah dan terjebak pada situasi yang salah. Ingin pulang tapi masih ingin menghabiskan waktu dengan Fathan. Ingin tetap di situ tapi sindiran Fathan kena mental gue banget.

Perbincangan gue dengan Fathan begitu menyenangkan untuk gue pribadi. Gue sudah nggak segrogi saat awal bertemu di The Breeze 24 Maret lalu. Obrolan kita pun cukup nyambung sampai aku menghiraukan Rizal yang duduk tepat di sebelahku.

Jam di hp gue menunjukkan pukul 00.30 WIB dan gue benar-benar mau pulang. Awalnya gue ngide untuk pulang sendiri pakai ojek online karena nggak mau ngerepotin orang. Sekaligus ingin menunjukkan pada Fathan kalau gue ngga ada hubungan apa-apa sama Rizal.

Tapi Rizal terus membujuk gue untuk anterin pulang. Menghindari konflik, akhirnya gue mau dianterin Rizal pulang sampai depan komplek sesuai permintaan gue juga. Di jalan, gue mencoba terus nge-cut Rizal dengan mengungkapkan betapa suka dan tertariknya gue pada Fathan.

Rizal terlihat tidak nyaman dengan obrolan gue itu. Tapi, itu cara gue buat nge-cut dia agar ngga terlalu berharap untuk mendekati gue karena gue pun sedang mengusahakan Fathan. Walaupun gue tahu itu sulit buat terealisasikan. Setidaknya, mengagumi, menyukai dan mencintai Fathan dalam diam sudah memberikan kebahagiaan untukku.

Setibanya di rumah, aku masih belum bisa berhenti memikirkan Fathan. Ingin rasanya aku lebih lama berada di hadapannya untuk berbagi obrolan. Hatiku tak kuat untuk menahan rasa galau yang menghampiri itu. Sebelum tidur, ku ambil ponselku dan membuka profil Instagram Fathan.

Aku tak bisa menahan hasrat untuk mengirim dm pada Fathan. Saat itu, aku hanya ingin terus berbincang dengannya. Sebenarnya aku ngga tahu harus mengirim pesan apa padanya. Hingga akhirnya, aku hanya bilang terima kasih untuk apa yang sebenarnya aku tak tahu alasannya.

 “Taaa, thankyou yak,” kataku di tanggal 20 Juni 2021.

Nggak lama, Fathan membalas dm ku yang selanjutnya akupun tak tahu harus membalas apa lagi. Dia menanyakan alasanku mengucapkan terima kasih.

“Thanks buat apa hanaa,” tanyanya.

Satu malam ku diamkan dm Fathan sembari aku cari balasan yang tepat untuk menjawabnya. Dalam tidurku, akupun terus berpikir balasan apa yang harus ku ketik untuk Fathan. Sementara aku sendiri tak tahu aku berterima kasih untuk apa.

Keesokan paginya, akupun baru menjawab dm Fathan. Aku bilang terima kasih untuk ngobrol-ngobrolnya. Ya, cuma itu alasan yang kupunya untuk menjawab pertanyaannya.

Sementara, akupun tak berhenti berterimakasih pada Tuhan atas kesempatan yang diberikan untuk kembali bertemu dan ngobrol bareng dengan idola yang sudah naik tahta menjadi gebetanku itu.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar