Daftar Blog Saya

Rabu, 25 November 2015

MENYUSUN ARGUMEN

MENYUSUN STRUKTUR ARGUMEN
A.     Pengertian Argumen
Argumentasi merupakn inti dari bagian terbanyak penulisan ilmiah. Secara Ringkas, dalam sebuah tulisan ilmiah penulisa menyampaikan pendapatnya tentang suatu gejala, konsep atau teori tentunya dengan harapan bahwa ia dapat meyakinkan pembacanya akan kebenaran pendapatnya. Oleh karena itu,  seseorang penulis harus benar-benar memahami apa yang dimaksud dengan sebuah argument. Ia perlu tahu jenis-jenis pernyataan yang diajukan dengan cara merangkaikan semuanya dengan benar.[1]

B.      Unsur-unsur Argumen
Sebuah Argumen dapat disampaikan dalam beberapa kalimat, beberapa alinea atau sebuah tulisan sepanjang satu buku. Berapapun panjangnya sebuah argument, juta dapat mengkajinya dengan memperhatikan unsur-unsur pembentuknya. Ada berbagai cara yang dipergunakan untuk membedah sebuah argument, yang semuanya merupkan modifikasi dari logika formal. Berikut ini akan dibacakan tentang beberapa cara sebuah argument terstruktur.

Logika Formal
Argument dalam logika formal memiliki paling sedikit tiga buah pernyataa. Pernyataan pertama adalah premis mayor, yaitu sebuah pernyatan umum tentang hubungan antara dua hal: A dan B. Pernyataan kedua adalah Premis Minor, yaitu pernyataan yang lebih spesifik tentang sebuah hal baru (C), yang dihubungkan pada hal A. Pernyataan ketiga adalah kesimpulan yang engaitkan B dengan C (Remage dan Bean 199:98).
Contoh :
                Premis Mayor                : Setiap manusia (A) akan mati (B).
                Premis Minor : Sokrates (C) adalah manusia (A).
                Kesimpulan     : Sokrates (C) akan mati (B).

Rumusan seperti ini disebut silogisme, dan dilihat dari susunan pernyataannya dan  jenis hubungan antara hal-hal yang terkandung dalam setiap pernyataan, ada berbagai bentuk silogisme yang mungkin dirumuskan[2].

C.      Keterbatasan Logika Formal
Keterbasan dari logika formal adalah bahwa perhatian kita tertuju pada struktur argument saja dan tidak pada isi atau kebenaran dari pernyataan-pernyataannya.[3]
D.     Struktur Argumen dari Toulmin
Stephen Toulmin mengajukan cara lain untuk melihat sebuah argument, yng memperhatikan struktur argument maupun isi dari pernyatan-pernyataanya.[4] Ia berpendapat bahwa sebuah argument harus terdiri dari enam unsur yaitu ;
Grounds : segala data atau informasi yang kita miliki dan dapat dijadikan dasar untuk membuat sebuah pernyataan.
Claim    : kesimpulan atau pernyataan yang ingin kita ajukan, yang didasarkan atas grounds.
Warrant :  pernyataan yang menghubungkan sebuah claim dengan grounds yang ada.
Backing : bukti-bukti untuk mendukung warrant.
Qualifier : pernyataan yang menunjukan besarnya kemungkinan claim.
Condition for rebuttal (kondisi penyangkalan) : pernyataan tentang pengecualian-pengecualian terhadap claim.

Skema Toulmin lebih tepat bagi penulis karena tujuan penulisan ilmiah pada umumnya adalah untuk meyakinkan pembaca tentang kebenaran pernyataan-pernyataan penulis. Penulis dapat membayangkan seorang pembaca yang siap mempertanyyakan tiap-tiap pernyataan yang dibuat penulis.

E.      Kesalahan-kesalaha dalam Argumen
Banyak argument yang memiliki kelemahan karena mengandung kesalahan-kesalahan yang bersifat informal. Ini adalah kesalahan-kesalahan yang tidak terkait pada struktur logis sebuah argument yang dapat jelas terlihat salah atau benar tetapi pada hal-hal yang hanya dapat dikira-kira. Apabila kita berbicara tentang kesalahan informal, seringkali kita temukan bahwa penilaian orang dapat berbeda-beda. Serrangkaian kalimat yang dianggap tidak tepat oleh satu orang mungkin saja dianggap benar oleh orang lain. Berikut adalah uraian dari beberapa kesalahan yang sering dilakukan seorang penulis ;
·         Supporting Idea : Pengulangan dari controlling idea dengan pilihan kata yang berbeda
·         False dilemma : apabila penulis menyederhanakan sebuah argument sehingga seolah-olah hanya ada dua kemungkinan dalam masalah yang dibahasnya.
·         Post hoc, ego propter hoc : kesalahan yang terjadi ketika seseorang menganggap urutan kejadian sebagai hubungan sebab-akibat.
·         Kesimpulan yang terlalu luas berdasarkan data yang sedikit
·         Kesalahan dalam penggunaan analogy
·         Mengacu pada otoritas yang salah
·         Mengacu pada pribadi lawan dan bukan pada argumennya
·         Terlalu menyederhanakan pendapat-pendapat yang berlawanan dengan pendapat sendiri
·         Menyajikan bukti yang tidak dapat dikaji langsung oleh pembaca
·         Mengacu pada premis-premis irrasional
·         Menganggap hal-hal yang sudah dikenal sebagai hal yang lebih baik daripada yang belum dikenal

KESIMPULAN
Menulis bukanlah sesuatu yang mudah, namun juga bukan sesuatu yang amat sulit. Kunci dari penulisan yang baik adlah pemahaman tentang objek penulisan itu sendiri. Dengan bantuan skema Toulmin, seorang penulis dapat menguji pemahamannya dengan mempertanyakan terlebih dahulu setiap pernyataan yang akan dibuatnya. Ia perlu mengetahui pernyataan mana saja yang membutuhkan penjelasan dan pembenaran lebih lanjut, dan ia perlu mengetahui pula jenis-jenis pernyataan yang dibuatnya apakah sebuah claim, stated reason, warrant atau lainnya. Pemahaman tentang struktru argument, masalah yang menjadi objek penulisanny, serta pembaca yang dituju akan membantu seorang penulis menghindari kelemahan dalam berargumen maupun membuat kesalahan-ksalahan informal dan menjadikannya seorang penulis yang baik.



DAFTAR PUSTAKA
Copi, I.M dan K. Burghes-Jackson, 1996, Logika Informal. Saddle River: Prentice Hall
Keraf G, 1987 Argumentasi dan Narasi. Jakarta: Gramedia
Ramage, J.D dan J.C Bean,1992, Menulis Argumen: Retorika dengan Menulis. New York: Mac Milan
Yunita T Winarto,2004, Karya Tulis Ilmiah Sosial. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia



[1] Yunita T.Winarno, Karya Tulis Ilmiah Sosial, (Jakarta:2004), Yayasan Obor Jakarta
[2] Keraf G, Argumentasi dan Narasi. (Jakarta: 1987), Gramedia 
[3] Copi I.M dan K. Burghess-Jackson, Logika Informal, (Saddle River : 1996), Prentice Hall. hal 57
[4] Remage dan Bean, Menulis Argumen Retorika dengan Membaca, (NewYork:1992), MacMillan, hal.100 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar