Ojek online atau biasa
disebut ojol bukan hal yang asing lagi di Indonesia, terlebih di kawasan Ibu
Kota. Maraknya ojek online disambut baik oleh para masyarakat yang kini menjadi
customer. Di Jakarta sendiri, tersebut tiga perusahaan ojek online yang
memiliki nama besar dengan cutomer yang besar pula.
Ojek online dinilai lebih
aman dibanding ojek konvensional baik dari segi harga ataupun kevalidan driver.
Ini karena semua data baik driver, harga maupun data customer tertera dalam
sistem aplikasi. Akan tetapi, sebagai customer hendaknya berhati-hati dengan
oknum driver yang “nakal”.
Dalam tulisan kali ini, saya
akan bercerita mengenai pengalaman saya
mengenai driver yang sedikit nakal. Mungkin sebagian orang yang membaca tulisan
saya akan merasa saya sangat berlebihan, tetapi ini bentuk usaha saya
menghindari kenakalan driver yang lebih parah.
Saya sudah menjadi
pelanggan tiga merek ojek online sejak 2015. Secara random saya menggunakan
tiga merek tersebut. Hal yang pertama saya pertimbangkan untuk menggunakan
merek yang mana, yaitu dari segi harga. Secara
keseluruhan, saya merasa nyaman akan transportasi tersebut.
Suatu Minggu di sebuah stasiun
di Jakarta, saya mengorder ojek online dengan tujuan ke suatu labolatorium
klinis untuk menghadiri sebuah acara. Sejujurnya, saya tidak mengenal daerah
tersebut dan jalanan stasiun itu terbilang sepi. Saya mengorder salah satu
merek ojek online, sesaat kemudian, seorang driver menerima order saya. Kemudian,
beberapa detik sang driver menghubungi saya melalui fitur chat aplikasi
tersebut, isi chatnya “di mana sayang”. Membaca
chat tersebut merasa saya sangat tidak nyaman dan takut. Kemudian saya
membatalkan orderan tersebut. Sesaat kemudian, saya mengorder ojek online dengan
merek yang sama. Alasan saya mengorder merek yang sama karena saat itu tarif
ojek online ini lebih murah dibanding dua pesaingnya. Tidak lama kemudian, saya
mendapatkan driver dan ternyata driver yang sama dengan sebelumnya. Saat itu
saya sedang terburu-buru dan melanjutkan orderan. Tak lama kemudian sang driver
menchat saya. Begini percakapannya.
Driver : di mana? (datar,
dan terkesan ketus karena tidak ada kata sapaan etc mba atau bu. Mungkin karena dia kesal orderan
sebelumnya saya batalkan)
Saya : di alf*mar* stasiun ******
Driver : sendiri
kan?
Di situ saya mulai curiga
bercampur rasa takut karena saya tidak mengenal daerah tersebut dan saya sedang
sendirian. Tanpa pikir panjang, saya langsung membatalkan kembali orderan lalu
saya lari dari lokasi yang saya berikan pada driver tersebut. Saya takut jika
driver tersebut benar menghampiri saya. Sambil berjalan ke arah lain, saya
mengorder ojol dari merek yang berbeda. Kemudian sekitar 10 meter saya jalan,
tiba-tiba ada yang memanggil saya dan ternyata itu driver baru dari merek ojol
yang terkahir saya order. Setelah pergi dari tempat tersebut saya baru merasa
aman.
Jika saja, saat itu saya
tidak sendiri dan berada di daerah yang saya kenal, saya akan terus meladeni
chat sang driver nakal untuk mengetahui maksud dan tujuan dia menchat saya
seperti itu.
Di sini saya tidak
menyalahkan salah satu, salah dua ataupun salah tiga perusahaan ojek online. Saya
menyayangkan sikap driver yang seperti itu yang dapat menjelekkan citra buruk
ojek online di kalangan masyarakat. Percayalah bahwa ojek online pastinya
memiliki SOP dan peraturan yang diberlakukan kepada driver. Pada dasarnya, hal
seperti ini hanya cerminan dari sang driver bukan perusahaan tempat Ia bekerja.
Pada nyatanya, hampir semua driver bersikap sangat sopan dan tidak menyalahi
aturan perusahaan.
Bagi teman-teman pembaca,
hendaknya selalu waspada terhadap oknum seperti ini. Apabila ada perkataan
driver yang tidak membuat nyaman dan hendaknya segera batalkan orderan. Terlebih
jika kalian di tempat baru dan sedang seorang diri tanpa ada orang yang kalian
kenal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar