Udah satu bulan ya Than, telepon terakhir kita yang random abis. Tiga jam ya kurang lebih kita ngobrol dari A-Z dari ngga penting sampai lumayan serius.
Dari awalnya yang kamu cerita kerja di Surabaya, ngetes ke aku sampai akhirnya kita ngobrol hati ke hati.
Di tengah malam itu, aku mulai ngespill kalo suka sama kamu tapi kamu ngga peka-peka. Sampai akhirnya kamu sadar juga.
"Ooooh jangan-jangan lo suka sama gue?" kata Fathan yang berhasil bikin aku salting di sepertiga malam.
Awalnya aku ngga mau jawab, sampai aku bilang kalo aku salting, mukaku merah dan ngga mau jawab pertanyaannya.
"Tuhkan kalo salting berarti bener," tebak Fathan semakin yakin.
"Hmm," kataku menandakan tebakannya benar.
"Pantesan ya nyamperin gue ke Lampung," katanya.
"Dari kapan?" tanyanya.
Aku cuma bilang ngga tahu, udah lama.
"Dari 2017?" tebaknya.
Aku membantah. Aku bilang kalo belum ketemu gimana bisa suka, emangnya gue K-Popers.
Aku cuma bilang, sudah cukup lama beberapa bulan lalu.
Entah kenapa aku ngga bisa bilang kalo suka sama dia dari pertama ketemu. Ah mendadak lidahku kaku.
"Maaf ya ngga peka," katanya.
Beruntungnya setelah itu obrolan kami menjadi cair. Kami masih membahas soal aku yang naksir dia tapi dengan candaan-candaan.
"Elu sih bilang suka sama gue, gue jadi gaenak, gue jadi kepikiran," katanya.
Dan dasar cewek yang ngga mau disalahin, gue malah salahin Fathan balik.
"Salah sendiri nanya-nanya, nebak-nebak," kataku.
Ternyata Fathan pun ngga mau disalahkan, dia masih aja terus salahin gue sampe akhirnya gue coba ngalah.
"Iye iye maaf, salah gue," kataku.
Emang dasar nyebelinnya Fathan setelah gue ngaku salah pun dia masih aja terus salahin gue.
"Udah ngga usah sok manis," katanya.
Ah gemas sekali perbincangan kami di sepertiga malam itu.
Fathan pun mulai merendahkan dirinya di hadapan gue. Dia bilang tak ada yang bisa diandalkan dari dirinya.
"Lu mau apa sih sama gue? Gue udah tua, gue orangnya moody, gue dingin. Lo tau sendiri kan kalo gue udah dingin kayak apa," katanya.
Gue pun tetap meyakinkan dia kalau bisa menghadapi semua tingkahnya itu. Gue bilang bersedia kok ikutin mood dia, dinginnya dia.
"Lo mau apa sama cowok dingin? Pacaran aja lo sana sama ac," kata Fathan
Gue pun bisa membalas ucapan dia, dengan kata-kata andalan gue.
"Ya gapapa lah lo dingin, kan gue hot," kataku yang berhasil bikin dia tertawa.
Belum berhasil gue meyakinkan Fathan bahwa gue benar-benar suka, tertarik bahkan mencintainya.
Ingin rasanya masih mengobrol, mengungkapkan apa yang selama ini gue rasakan kepadanya. Tapi, memang saat itu bukan waktu yang tepat dan akhirnya Fathan mengajak untuk menyudahi obrolan kita saat itu.
Than, udah satu bulan ya.. Kangen.. 🤍